1 Desember 2012

SAYA MEMANG ORANG DESA, SOOOO WAAAAT?


Lahir dan di besarkan di sebuah desa di pinggiran Kabupaten Wonogiri, sudah dekat pula dengan Samudera Hindia, menjadikan tempat tinggal saya terasa jauh dari peradaban. Apalagi konotasi yang diberikan orang-orang di luar sana untuk Wonogiri kadang bikin nyinyir, sebuah daerah yang terdiri dari gugusan bukit, batu dan sulit mendapatkan air. Lengkap sudah citra negatifnya, hehehe.

Awalnya dulu saya rada sentimen, karena faktanya tidak begitu. Tidak semua daerah wonogiri seperti itu termasuk daerah saya. Disini air mudah di dapat, tanahnya subur dan arealnya cukup landai. Tapi lama-lama saya capek juga. Buat apa saya memerangi persepsi orang karena itu hak mereka. Berkomentar adalah hak setiap orang untuk setiap hal yang dilihat. Tapi tidak terlalu menggagas juga hak setiap orang juga. Dan saya memilih untuk tetap bangga dengan kabupaten ini seumur hidup saya (Lebay).

Sejak SD konsep desa selalu dikontraskan dengan kota. Seingat saya dulu wawasan tentang pedesaan diberikan di pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas 3. Masyarakat desa bersifat paguyuban, nilai gotong royong masih dijunjung tinggi. Hubungan kekeluargaan lebih rekat daripada masyarakat kota. Ciri-ciri itu membuat saya merasa bangga sebagai orang desa.

Konsep-konsep itu pada pelaksanaannya telah saya buktikan seiring dengan interaksi sosial yang saya lakukan. Ada satu hal yang begitu berkesan bagi saya sampai sekarang tentang desa. Itu soal senyuman. Okelah setiap orang bisa tersenyum. Tapi menurut saya di desa senyuman begitu dekat dengan hati. Tulus. Berbeda dengan kota yang kadang kala menyajikan senyuman sejuta makna, hehehe.

Di samping senyuman, saya cukup terkesan dengan budaya gotong royong. Setiap kali ada orang punya kerja maka tetangga dengan bahu membantu akan datang memberi bantuan sesuai dengan kemampuan seperti memasak nasi, sayur, daging, acar, menyiapkan snack, membuat minuman yang biasanya adalah the, cuci piring, dan masih banyak lagi.  Semua sudah ada yang mengurusi. Contoh lain ada orang meninggal. Dalam 10 menit bisa saja kabarnya mampu tersebar radius 1-3 km. Tetangga terdekat akan membantu keluarga yang berduka untuk mengurus segala keperluan. Dan masih banyak lagi gotong royong yang begitu indah di sini.

Setelah SMP, SMA dan kuliah semakin seringlah saya pergi dari rumah. Kota menjadi lingkungan baru yang mesti saya pelajari dengan seksama. Memang nilai gotong royong dan kekeluargaan tetap berlaku, tapi memang tidak sekental di desa. Paling tidak di situ terbukalah pemikiran saya bahwa konsep kota yang dipaparkan dalam pelajaran di IPS tidak seekstrim dan senegatif yang terpapar di buku IPS.

Apakah dengan kemudian saya lebih mencintai kota setelah bertahun-tahun tinggal di situ? Tentu saja tidak. Saya tetaplah orang desa dan saya bangga karena memiliki kampung halaman. Desa, kampung halaman ini laksana ibu yang selalu membuka tangannya dengan senyum hangat, ia akan menyambut si anak sewaktu-waktu ingin pulang.  Ia guru sejati tempat belajar arti hidup dalam kesederhanaan.

30 November 2012

MASA SD DAN SEGUDANG CITA-CITA


Beberapa bulan terakhir setelah tidak kost saya punya kesempatan untuk kembali mengamati jalan raya lebih lama daripada waktu masih kost. Secara, rumah saya tepat berada di pinggir jalan raya antar kabupaten bahkan juga antar provinsi. Ada satu pemandangan menarik yang rutin setiap pagi dapat kunikmati gratis dari pukul setengah tujuh sampai dengan pukul tujuh. Apa itu? Berduyun-duyunnya adek-adek siswa sekolah dasar di dekat rumah yang pada berangkat. Ada yang diantar orangtuanya, ada yang berangkat bersama teman-temannya dan ada pula yang berangkat sendirian. Semoga dia sendirian bukan karena tidak punya teman. Yang pasti saya senang melihat mereka bisa sekolah. Miris rasanya melihat anak-anak yang berada dijalanan, semestinya mereka belajar dan bermain tetapi dia terpaksa “dikarbit” untuk mencari uang di kerasnya jalanan.

Sosok anak berseragam SD mungkin tampak semua biasa saja, tapi menurut ada hal menarik yang dapat diselami dengan sejenak mengamati mereka. Ya, kita dapat bercermin. Dari mereka saya dapat bernostalgia membayangkan diri saya sekian tahun silam saat masih seperti mereka. Berangkat ke sekolah pada saat itu tidak saya tampik sering pula dihampiri rasa malas. Malas sama pelajaran IPA, malas ketemu teman yang lagi berseteru, malas karena ada agenda cabut-cabut rumput halaman, dan sepertinya masih ada alasan-alasan lain di balik rasa malas selama enam tahun duduk di bangku SD.

Namun saya pun ingat bahwa masa-masa itu dihiasi pula oleh momen tak terlupakan yang menjadi tonggak apa yang terjadi dengan diri saat ini. Kalau tidak salah sih kelas 1, saat masih awal-awal, bu guru tak henti-hentinya bertanya. Apa cita-citamu? Setiap kali mendapat pertanyaan itu setiap waktu itu pula jawaban saya berbeda. Mungkin bahasa bekennya sekarang saya labil, inkonsisten, atau ngasal aja. Namanya juga anak-anak. Hehe. Tapi menurut saya bukan labilnya yang perlu dicermati, saya pikir-pikir setelah saya besar saya tidak ngasal kok. Setiap cita-cita yang terlintas semua didasari oleh panggilan hati walaupun kadang suka tak rasional.

Seingat saya cita-cita pertama saya adalah pengen jadi polwan. Kenapa? Karena bapak seorang polisi dan saya pengen menjadi seperti bapak. Cita-cita kedua adalah menjadi pengacara, seingat saya itu didasari setelah membaca buku pintar milik kakak yang memiliki ulasan seputar shio berdasarkan tanggal lahir dimana di dalamnya ada profesi-profesi yang dianggap cocok. Bosan dengan pengacara saya beralih pada cita-cita ingin menjadi dokter. Jangan pikir karena saya ingin menyembuhkan orang sakit, bukan, bukan. Saya tertarik menjadi dokter karena pengen punya parabola seperti yang lazim nangkring di atap rumah para dokter. Logika salah kaprah saya saat itu adalah: setiap dokter memiliki parabola, maka semua dokter pasti bisa punya parabola, hehehe. Materialisme banget sih, hehe, tapi dulu memang sangat sulit bagi pengguna antenna UHF untuk dapat menangkap siaran televisi swasta yang oke-oke itu. Hiburan sehari-hari hanya TPI (sekarang MNCTV) dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB, kemudian di sambung dengan TVRI stasiun Yogyakarta mulai pukul 15.00 WIB. Jadi jangan tanya gimana itu Doraemon, Sailormoon, Ultramen, Satria Baja Hitam, semua terasa seperti dongeng yang melayang-layang di atas kepala. Sepertinya masih ada beberapa cita-cita seperti pengen jadi pramugari, guru, diplomat, arsitek, mungkin juga jadi wartawan. Tapi semua itu berlalu begitu saja. The top three lah yang paling berkesan dalam benak saya.

Dari situ saya merasa bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang begitu luar biasa, dia masih jauh dari dunia “nyata”. Dia bebas berimajinasi sesuka hari, merancang masa depan dengan proses mengamati, dan mempersepsi hal-hal yang ia temui. Setiap mimpi sangat berharga karena secara natural setiap anak akan terstimuli untuk mengamati, mencari tahu, terus berpikir dan menuju pada kecerdasan. Saya senang pernah mengalami fase itu. Jika pun saya tidak akan bisa mewujudkan setiap cita-cita itu toh dulu saya pernah puas berkhayal seakan-akan menjadi seperti yang saya cita-citakan. Tapi kalo boleh sok jadi motivator buat adek-adek, ayo, ayo yang rajin belajar ya, jangan sungkan juga buat bercita-cita dan bermimpi setinggi langit. Cita-cita itu doa. Kata mister Walt Disney, “If you can dream it, you can do it” dan kata mbak Agnes Monica, “Dream, Believe, Make it Happen”. Selamat menikmati dunia kanak-kanak:)

29 November 2012

Sebuah refleksi dari Film “Confession Shopaholic”

Pasca memutuskan untuk bercerai dengan blog ke sekian-sekian, kini saya memutuskan untuk kembali rujuk dengan blogspot, blog pertama dalam hidup saya. Setelah mencari-cari, ada tulisan yang sekiranya tak salah untuk dipindah ke blogspot. Dan tereteteeet, terpilihlah beberapa tulisan, salah satunya tulisan ini. Nde se set....

Sambil sarapan, aku iseng memutar film berjudul “Confession Shopaholic” bergenre komedi percintaan. Weekend kemarin sempat iseng nge-play, tapi tidak kulanjutkan karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, tak begitu ingat apa pekerjaannya. Yah, dan pagi ini aku sangat senang setelah selesai menontonnya. Mungkin ini sebuah bahan refleksi yang jika “terpaksa” dikaitkan dengan pengalamanku akan menjadi sangat terkait.

Film yang aku copy seminggu lalu dari tetangga kostku bernama Diah ini diproduksi oleh Disney dengan setting industri komunikasi di Amerika Serikat. Ini adalah film soal perempuan yang dikaitan dengan fesyen dan kecantikan. Bright, Beautiful, Behaviour, 3B. Semboyan ajang kontes kecantikan dari tingkat desa sampai sejagad raya menjadikan ketiga point itu untuk mengukur perempuan. Bukan hal yang perlu dipertanyakan mengapa perempuan diukur dengan 3B, karena semua orang baik laki-laki dan perempuan meyakini hal itu. Keyakinan itu untuk sebagian besar perempuan telah menggerakkannya untuk menjadi 3B walau terkadang harus menyakitkan. 3B adalah keyakinan massa yang telah menjadi pemakluman dan rasa-rasanya semua itu hanya untuk memenuhi keinginan laki-laki semata.

Film ini pun menyuguhkan hal itu. Si tokoh utama bernama Rebecca Bloomward digambarkan sebagai perempuan yang berkulit putih, berambut ikal pirang sedada yang selalu diurai mengembang, bertubuh mungil dan langsing, energic, menarik, dan yang menjadi sesuai dengan ide ceritanya adalah gila belanja. Dia gila belanja untuk penampilannya, dia gila belanja untuk memenuhi hasratnya untuk memiliki penampilan terbaik hasil fantasinya lantaran merek-merek terkenal membalut tubuhnya. Yah, scene per scene menunjukkan bagaimana perempuan lah yang lebih banyak “gila belanja” dari laki-laki. Mulai dari sepatu, dress, jaket, tas hingga selendang menjadi pemantik mata untuk kemudian menggerakkan kaki untuk memegang dan membelinya. “Mendapatkan hal baru adalah kebahagiaan yang tak terkira dan menjadi sebuah candu. Saat pengaruhnya mulai menurun ada sebuah dorongan untuk melakukannya lagi”. Shopaholic sindrom.

Dalam hal ini perempuan distereotypekan sebagai makhluk pesolek dan boros. Di lain pihak, sosok laki-laki muncul sebagai sosok superhero yang membantu meluruskan jalan dengan sebuah kalimat yang kurang lebih artinya: tak penting apa yang melekat di tubuhku, apa merknya, berapa harganya dan juga termasuk siapa keluargaku, seberapa mereka kaya, seberapa mereka terhormat. Aku lebih bahagia karena menjadi diriku sendiri karena setiap mencapaianku sendiri. Dalam hal ini Brandon-jurnalis Dayton- telah memikatku. Menyoal jurnalis, hemmm, sampai saat ini pekerjaan itu memang masih menjadi impianku. Mungkin karena itulah aku menyukai film ini yang memakai setting pekerjaan media sebagai latar cerita. Ini adalah sebuah film yang menyuguhkan pesan moral tentang bertapa berharganya sebuah kejujuran dan pengendalian diri karena kepuasan duniawi tak akan pernah abadi. Satu-satunya sumber kebahagiaan sejati adalah kebenaran, yang dalam hal ini begitu jelas digambarkan dalam sikap jujur. Kebohongan hanya akan membuat hidup menderita: kehilangan teman, pacar, pekerjaan dan sebagainya. Jujur membuat manusia menjadi percaya diri karena memang tak ada yang disembunyikan, dan percaya diri membuat seseorang menjadi dirinya sendiri. Itulah sumber kebahagiaan sejati.

Di samping itu, film ini menyuguhkan suatu kondisi real tentang sebuah proses hidup, mustahil kita tahu kebenaran tanpa kita tahu kesalahan. Seringkali takut berbuat salah muncul saat akan berkata, bersikap dan sebagainya. Tapi tanpa kita sadari kesalahan sebenarnya hal yang sangat wajar untuk setiap manusia karena manusia itu tercipta tak sempurna. Sering kali dalam kotbah-kotbah keagamaan, apapun agamanya selalu diingatkan oleh sang pengkotbah, manusia adalah tempat salah dan khilaf. Maka dari itulah kesalahan adalah hal yang lumrah, justru dari kesalahan itu ita bisa tahu bagaimana yang benar. Dari film ini aku belajar bagaimana untuk bangun dari setiap keterpurukan. Meminjam kata bijak yang diutarakan oleh Mario Teguh dalam salah satu programnya di sebuah stasiun swasta, menyesal tidak akan mengembalikan keadaan menjadi lebih baik, yang bisa kita lakukan dari masa lalu adalah ambil hikmahnya dan fokuslah untuk saat ini untuk membuat kenangan yang jauh lebih baik di hari depan. So great. I wanna try to this, always.

Ada satu pesan yang kutangkap lagi yaitu soal keluarga. Ini adalah hal yang seringklai masih dijadikan sebagai kambing hitam. Kita menjadi pemalu karena merasa semasa kecil dikatain “pemalu”, kita tidak bisa menyanyi karena merasa tidak didukung orangtua karena semasa kecil dikatain “suaramu jelek”. Dan seterusnya. Dalam film ini, ada sebuah dendam pada masa lalu yang menjadi daya dorong untuk menjadi fashionista lantaran semasa kecil merasa dikekang hanya bisa memakai pakaian yang kolot. Yah, sebuah energy yang berasal dari marah ternyata memang efektif menggerakkan diri untuk berbuat sesuatu. Tapi ternyata ketidakbaikan memang memiliki masa berlaku yang sangat terbatas. Suatu saat energy itu akan habis dan kita ditinggalkan dalam kondisi yang tak baik pula. Dalam kemarahan pada masa lalu, dalam kemarahan pada keluarga, keluarga akan tetap menjadi muara dari perjalanan hidup manusia. Saat diluar banyak orang mencibir, keluarga akan tetap memberikan cinta. So, alangkah indahnya saat kita mencintai keluarga lebih dari apa pun. Soal “kata ta enak” waktu kecil maafkan, mungkin itu memang cara terbaik yang mereka ketahui untuk mengarahkan kita menjadi lebih baik. Love your family:)

19 Oktober 2009

Sulitnya Mencari Secuil Tempat yang Benar-Benar Aman

Ini hanya tulisan iseng belaka, berangkat dari rasa risih saat mengikuti misa di sebuah gereja di Solo.
Saat penerimaan komuni, dimana aku duduk di bagian depan, aku pun kebagian jatah menerima hosti lebih awal. Dengan demikian, setelah doa setelah komuni memungkinkan aku untuk mengapati umat yang berjajar antre menerima hosti.
Yang menarik perhatianku adalah, satu dua bahkan puluhan ibu-ibu maju membawa serta tas digantung di bahunya. Seketika juga aku berpikir, ini ibu kog ya berlebihan banget di gereja yang dipikir adalah uang atau entah barang berharga apa yang ada di dalam tasnya. Sudah hilangkan hakikat beribadah yaitu kesucian hati dan pikiran untuk menghadap Tuhan sesaat dari penatnya aktivitas duniawi?
Sepertinya memang sudah tak ada tempat aman di dunia ini.
Sungguh mengenaskan sekali.
Ya Tuhan, sebegitu akutkah krisis kepercayaan di dunia ini?

7 Mei 2009

SAATNYA INDONESIA BELAJAR LEGOWO

Pemilu legislatif 2009 telah berlalu hampir satu bulan, tetapi hingga kini penghitungan suara belum mencapai hasil final. Beberapa lembaga survei telah mengumumkan hasil penghitungan cepat mereka (quick count) dengan menempatkan partai-partai secara berurutan sebagai pemenang pemilu 2009. Namun quick count hanyalah wacana, hasil pemilu yag sesungguhnya tetaplah penghitungan manual yang kini sedang diproses oleh Komisi Pemilihan Umum(KPU) untuk segera diumumkan sebagai kepastian.

Banyak faktor yang menjadi penyebab kelambanan pemilu kali ini, dari sudut pandang sistem, pemilu dengan sistem langsung kali ini terbilang pemilu yang paling “ribet”. Maklumlah sistem multi partai dengan partai yang berubah-ubah belum lagi penghitungannya cukup menyita waktu dan tenaga. Acung jempol untuk para anggota Komite Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di daerah-daerah yang berperan dalam proses baik pra, pelaksanaan maupun paska pemilu.

Selama penghitungan suara, selama itu pulalah semua mata dan telinga berusaha untuk selalu tahu perkembangan yang terjadi, apalagi bagi mereka yang berkepentingan secara politis terhadap hasil pemilu. Bagi partai besar yang masuk ranking sepuluh besar, kini posisi mereka terbilang aman. Namun bagi partai-partai “gurem”, rasa-rasanya mereka harus siap mundur secara perlahan tetapi pasti dari arena percaturan politik Indonesia. Sambil menunggu kepastian hasil pemilu dari KPU, kini saatnya Negara ini membuktikan diri sebagai Negara demokrasi yang sesungguhnya, yaitu menjunjung tinggi nilai sportivitas.

Bicara tentang sportivitas, sepertinya Negara ini perlu dipertanyakan sportivitasnya. Belum lagi hasil penghitungan suara selesai, setiap hari di media massa baik cetak maupun elektronik tak pernah absen dari pemberitaan adanya aksi protes terhadap pemilu oleh para simpatisan partai bahkan oleh para calon legislatif. Dengan catatan, biasanya aksi tersebut dilakukan oleh pihak yang kalah dalam perarungan.

Ujung-ujungnya aksi-aksi konyol mulai dari menyegelan kantor KPU, aksi buka baju bahkan sampai tindak anarkisme adalah menuntut diadakannya pemilihan ulang. Pertanyaanya, sesungguhnya untuk apa pemilu diadakan? Untuk memperbaharui kondisi Negara agar lebih baik ataukah hanya sekedar ajang permainan yang semata-mata mengedepankan kemenangan saja?

Kemenangan adalah motivasi bagi siapa pun saat mengikuti kompetisi bahkan bisa dipastikan kemenangan adalah tujuan. Pemilu adalah sebentuk kompetisi sesaat untuk menghasilkan siapa yang berhak secara sportif memimpin. Apabila pemilu telah usai, maka sportivitas itu sudah layak dan sepantasnya untuk dijunjung tinggi dan kembali pada kebersamaan untuk membangun bangsa dan Negara untuk hal yang lebih baik.

Dimanakah Hakikat Demokrasi Pancasila kita?
Masalah sportivitas berkaitan erat dengan demokrasi. Negara Indonesia yang mengukuhkan diri sebagai Negara demokrasi lambat laun semakin terpuruk dalam krisis kepercayaan yang tak berujung. Setiap orang berjalan dengan akusentrisnya, ingin menjadi yang terdepan dengan motif mencari untung sediri. Bahkan dunia olahraga yang menjadi ruang untuk sportif terkadang dicoreng dengan aksi-aksi brutal para bonek, atau bahkan pemain yang kalah merasa tidak terima dan ujung-ujung memboikot.
Menilik konteks bahasanya, demokrasi berasal dari kata demos dan kratein yang berarti pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Masuk dalam falsafah bangsa Indonesia maka kita mengenalnya sebagai demokrasi Pancasila dengan asas kekeluargaan dan musyawarah, mengandung prinsip persamaan, keseimbangan, kebebasan yang pertanggungjawab, keadilan sosial, musyawarah mufakat, persatuan dan menjunjung tinggi cita-cita nasional.

Pemilihan langsung memang menunjukkan pelaksanaan demokrasi yang sesungguhnya dimana aspek partisipasi masyarakat untuk memilih penyambung aspirasiya terpenuhi. Minimal sebelum menjatuhkan pilihan pada satu nama, seseorang pernah mengalami tahap tahu bahkan sampai mengenal siapa orang yang menjadi wakilnya.

Namun yang menjadi catatan untuk ke depan semoga sistem pemilu lebih disederhanakan sehingga tidak menimbulkan kebingungan masyarakat. Semakin tinggi angka kesadaran poitik masyarakat maka semakin sehatlah iklim perpolitikan kita. Belajar dari Amerika Serikat, saat pemilu Barack Obama dan Hilary Clinton bernah bersaing mati-matian untuk memperebutkan posisi calon presiden dari Partai Demokrat. Saat rakyat sudah menentukan bukan saatnya persaingan dilanjutkan, mereka kini kompak dalam pemerintahan.

Saran untuk bangsa Indonesia, rasanya ada pilihan yang lebih mulia dari sekedar saling menjatuhkan yaitu saling bekerja sama dalam membangun Negara. Semoga mereka yang kalah bersikap legowo dan menjauhkan diri dari sikap kekanak-kanakan, dan bagi yang menang mau merangkul untuk tetap menjalin silaturohmi yang baik.

14 Februari 2009

Valentine’s Day? Positif Thinking sajalah….:)

Setiap tahunnya, 14 Februari diperingati dengan hari kasih sayang atau lebih beken disebut Valentine’s day. Coklat, permen. bunga mawar, kartu bergambar Cupido atau malaikat bersayap hingga emas berlian diberikan bagi orang-orang terkasih untuk menunjukkan rasa sayang. Semisal ada lembaga survey yang meneliti bagaimana antusiasme manusia di seluruh dunia dalam memperingati hari yang satu ini, saya rasa tak menutup kemungkinan untuk mendapat hasil bahwa hampir semua penduduk planet ini tahu adanya peringatan Valentine’s Day dan kemungkinan juga merayakannya. Mengapa? Karena dengan pemaknaan kasih sayang, Valentine’s Day lebih universal. Ia melintasi agama, suku, ras dan budaya apa pun.

Pro kontra tentang Valentine’s Day masih berdengung dimana-mana. Tak ada yang salah dengan pendapat. Atas dasar itu pula saya berpendapat melalui blog ini. Sejarah tentang Valentine’s Day menjadi akar dari pro kontra yang terjadi hingga saat ini. Dari berbagai sumber dikisahkan Valentine’s Day berangkat dari Yunani, ada pula versi dari Romawi dan dihubungkan juga dengan Gereja Katolik. Tak ada habisnya jika kita terus mempermasalahkan Valentine’s Day layak atau tidak untuk kita peringati. Ambil hikmahnya saja akan kebutuhan manusia hidup berdampingan dengan damai, jika ada kasih sayang tak akan mungkin ada peperangan, perpecahan. Melalui Valentine’s Day kita diingatkan pada satu titik dalam garis kehidupan kita bahwa kehidupan butuh kasih sayang tak hanya kasih untuk pacar, tetapi untuk siapa saja yang ada di sekitar kita.
Hepi Valentine’s Day

31 Januari 2009

Solo (lagi-lagi) Banjir

Banjir kembali menggenangi Solo pada Jumat (31/01/09). Banjir terjadi di beberapa titik sekitar anak sungai maupun yang berdekatan langsung dengan Sungai Bengawan Solo. Warga Panggungrejo, Kecamatan Jebres yang berada di bantaran sungai Kalianyar- anak sungai Bengawan Solo- menjadi salah satu korbannya. Air sungai meluap dengan ketinggian hingga pinggang orang dewasa. Menurut keterangan warga setempat, musibah ini mulai terjadi pada pukul 22.00 WIB secara cepat. Mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga. Pada pukul 05.00 WIB keesokan harinya, banjir berangsur-angsur surut. Hanya daerah yang rendah saja yang masih digenangi air. Peristiwa ini tepat satu tahun lebih 35 hari berselang dari banjir 2008. Semoga ke depannya ada perhatian khusus dari Pemerintah Kota Surakarta untuk lebih menertibkan kawasan bantaran sungai dari hunian mengingat kawasan tersebut rawan bencana banjir.

12 Januari 2009

JILBAB SOLO PUNYA CERITA

Kehadiran jilbab menjadi bagian dari pemandangan kita sehari-hari di Kota Solo. Mulai membuka mata di pagi hari hingga menutup mata di malam hari, baik dilingkungan se-RT hingga radius puluhan kilometer, silih berganti dapat ditemui gadis kecil, wanita muda hingga lanjut usia mengenakan jilbab atau kerudung. Apa sih fungsi jilbab sesungguhnya

Cikal bakal kerudung bukan asli dari bumi Indonesia. Berangkat dari budaya di Timur Tengah yang menyatu dengan konsep ajaran Islam, kini jilbab menjadi sebentuk simbolisasi agama bagi yang menyandangnya.

Jika ditilik berdasarkan kondisi geografis di Timur Tengah yang ,berada di atas gurun pasir, kehadiran kerudung memang sangat dibutuhkan agar rambut tak mudah lepek akibat terkena debu. Namun, dalam konsep agama Islam lebih menekankan fungsi jilbab sebagai penutup aurat sehingga mengurangi kemungkinan buruk dalam berinteraksi dengan lawan jenis.

Menurut Islam, setiap wanita muslim memang dianjurkan untuk mengenakan jilbab, tetapi pada prakteknya kembali pada kesadaran individunya sudah siap ataukah belum untuk mengenakan jilbab. Kesiapan secara lahir batin menjadi syarat utama karena jilbab berhubungan dengan simbol agama. Siapa yang mengenakannya harus mencitrakan esensi dari simbol itu sendiri. .

Lain dulu lain sekarang, kadar kesiapan memang masih diutamakan. Namun, kini muncul fenomena baru dimana jilbab hadir sebagai bagian dari mode. Semakin banyak wanita yang mengenakan jilbab yang fashionable. Rasanya tidak matching kalau tidak menggunakan jilbab yang senada dengan warna baju dsb. Dengan kata lain, kini tersedia bermacam-macam jilbab yang tak monoton pada bentuk konvensional yang berukuran besar-besar.


Dari Mindset Layar Kaca hingga Anthorium

Berpuluh-puluh bahkan ratusan jilbab memiliki nama. Nama itu tentunya sengaja dibuat agar ia mudah diingat. Bagi bisnis jilbab, kehadiran nama tentunya akan berpengaruh, semacam penglaris yang akan mendongkrak penjualan.

Berdasarkan survai di pusat-pusat grosir Solo, terdapat macam-macam nama jilbab yang kadangkala menimbulkan insting untuk tertawa karena ada-ada saja nama yang diberikan. Nama-nama jilbab yang sedang laris di pasaran Solo antara lain: Jilbab Segi Empat, Teh Ninih, Belah, Serut, Paris. Jilbab-jilbab Itu merupakan jilbab kategori sederhana. Selain itu, ada lagi jilbab yang beradaptasi dari tokoh utama sinetron atau film seperti: Jilbab Muslimah, Kun Fay a Kun, Ayat-Ayat Cinta dan Khumaira. Kategori jilbab ketiga yaitu penamaan berdasarkan asosiasi yang ditimbulkan dengan saat melihat, yaitu ada jilbab Jablay dan Jilbab Kucing Garong. Terakhir nama jilbab berdasarkan trend Anthorium yaitu ada jilbab Gelombang Cinta dan Jenmani.

Jilbab Segi empat menjadi jilbab yang sangat familiar karena sudah dikenal sejak dulu kala. Penggunaan jilbab ini cenderung membutuhkan waktu lama karena dari kain segi empat lebar harus ditata menggunakan acsesoris tambahan berupa jarum pentul atau bros agar bisa tertata sebagai jilbab.

Jilbab Belah. Jilbab ini merupakan generasi jilbab instant dengan variasi belahan ada yang disebut Belah Samping jika belahakn di bagian bahu, dan Belah tengah jika belahan berada di depan dada. Khusus untuk Jilbab belah tengah menggunakan acsesoris bros agar belahan tengah bias dirapikan dan tidak terbuka.

Jilbab Teh Ninih. Jilbab ini merupakan sub dari jilbab belah dengan belahan samping. Model ini beradaptasi dari jilbab yang dikenakan oleh isteri pertama Dai kondang Aa Gym. Tak butuh waktu lama untuk mengenakannya. Jilbab ini terdiri dari dua macam kain, pertama untuk kain pelindung wajah yang teksturnya lebih tebal serta kain yang melingkar hingga dada.

Jilbab Serut. Jilbab ini memiliki ciri khas serutan tali untuk mengencangkan bagian leher. Serutan bisa terletak di samping dan di tengah sehingga menimbulkan ornament lipatan di kedua titik itu.

Jilbab Muslimah. Untuk jilbab yang satu ini beradaptasi dari jilbab yang dikenakan Titi Kamal di Sinetron Muslimah yang ditayangkan di Indosiar. Bentuknya cukup simple hampir menyerupai Jilbab Teh Ninih, Namun divariasi dengan sehelai tali yang melingkar di leher dengan dikaitkan oleh kancing di belakang leher.

Jilbab Ayat-Ayat Cinta. Jilbab ini beradaptasi dari model yang dikenakan oleh Riyanti dalam perannya sebagai Aisyah di film Ayat-Ayat Cinta. Hampir sama dengan jilbab muslimah hanya talinya di samping kiri.

Jilbab Gelombang Cinta. Muncul setelah trend tanaman Anthorium beberapa tahun lalu. Motif yang membedakannya yaitu terletak pada lekuk-lekuk menyerupai gelombang yang melingkar bahu. Selain itu di luar jilbab ditambahi jilbab topi.

Jilbab Jenmani. Jilbab ini hampir sama dengan jilbab belah hanya saja ada tambahan acsesoris kain yang dipasang miring menyerupai tulang dau jenmani di bagian atas kepala.

Jilbab apa yang akan muncul selanjutnya, silahkan tunggu saja. Para tim kreatif jilbab pasti sedang sibuk mencari nama-nama baru. Tak lebih dari 3 bulan diperkirakan akan ada nama-nama baru yang meramaikan keluarga jilbab:).

4 November 2008

PEMILU AS AJANG BELAJAR BAGI INDONESIA

Pemilihan umum Amerika Serikat akhirnya dilaksanakan pada 4 November ini. Selasa pertama setelah senin pertama di bulan November masih dipilih secara turun temurun sebagai hari pemilihan di negara adidaya itu.

Setelah melalui proses cukup panjang yang penuh kontoversi diwarnai perang argument hingga kampanye hitam, pembuktian siapa yang terpilih sebagai orang nomor satu AS atau bahkan orang nomor satu dunia hanya dapat akan terjawab pada 15 Desember nanti setelah electoral votes memutuskannya.

Entah bagaimana yang terjadi di Negara Amerika sana, entah juga dengan Negara-negara lain diluar Indonesia. Yang terasa bagi saya setiap membaca sebuah surat kabar atau pun melihat siaran televisi ada kesan bahwa media-media di Indonesia sengaja mengagendakan bahwa “Indonesia mendukung Obama”. Sebentuk agenda settingkah?

Nilai kedekatan Obama memang tak terelakkan sebagai daya tarik yang menjual bagi suatu informasi. Pernah mengenyam hidup di negara kepulauan ini seakan-akan menganggap Obama sebagai bagian dari Indonesia. Ironisnya, ia di Indonesia hanya sampai masa SD dan menurut saya hal itu tak cukup membanggakan. Akan lebih beralasan apabila ia lulusan UNS atau UGM, itu baru namanya berita.

Indonesia boleh saja mengelu-elukan Mc Cain atau Obama. Siapa pun yang terpilih bukan kita yang menentukan, tetapi warga AS sendiri. Kita boleh saja antusias karena ada kepentingan Indonesia untuk menciptakan hubungan baik dengan ”Negara superpower” itu. Namun, alangkah baiknya jika kita tak lupa belajar dari sistem Negara pilar liberalisme itu.

Belajar tak mesti meniru mentah-mentah, tetapi belajar adalah mengambil apa yang baik dan membiarkan hal yang dianggap kurang pas. Kembali kepada hakikat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, bercirikan Pancasila maka itulah yang menjadi filter apa yang pantas di ambil dan apa yang tak pantas di ambil.

Indonesia sendiri akan menggelar perhelatan akbar memilih presiden pada 2009. Namun rasanya kita jauh lebih tertarik dengan yang terjadi di Negara yang amat jauh di seberang samudera sana. Mengapa? Karena mereka jauh lebih tertata oleh tanggung jawab, semangat pengabdian dan logika yang jalan, berbeda dengan kita yang semangatnya saja demi mendapatkan kesenangan, kalau tidak tercapai yang maju egonya.

Kita patut bangga dengan system pemilihan umum dimana sebagai rakyat kita didudukkan sebagai “the real king” untuk memilih siapa presidennya. Namun awas, yang kita pilih bukan popularitasnya, tetapi kualitasnya. Siapa pemimpin RI selanjutnya semoga ia benar-benar karena semangat melayani yang kecil, lemah dan tersingkir.

26 Oktober 2008

Mengapa harus orang lain yang menjadi wasit?

Suatu permainan akan dianggap sah apabila ada wasitnya. Adakah kemungkinan suatu permainan khususnya yang identik dengan keberadaan atau bantuan wasit suatu ketika harus berjalan tanpa wasit? Dengan alasan seluruh wasit di seluruh dunia sedang rapat akbar atau liburan bersama ke Hawaii!! (maap..ilustrasi yang sangat koya.hHa). Jadi nanti semisal Christ John ingin bertanding dengan lawannya, PERSIJA bertanding melawan Persis, Sony Dwi Kuncoro meawan Lin Dan, mereka harus siap bermain dari awal tanpa akhir dengan mandiri, gak asal maen dan yang jelas ada kejujuran yang benar-benar jujur untuk mengatakan out atau masuk serta menghitung skor kemenangan secara bersama berdasarkan asas kekeluargaan tanpa rebutan dan anarkisme.

Dalam konteks riil mungkin ini terlalu mengada-ada dan hanya akan berhenti sbg bahan banyolan belaka, tetapi saat kita skeptis mencerna bagaimana kejujuran saat ini saya rasa banyak hal yang bisa kaji. Bisa jadi manusia memang pentok tak bisa jujur secara suratan takdir, atau memang karena asas monodualisme dimana peran orang lain sangat dibutuhkan sehingga dibuatlah konsep wasit untuk memberi lapangan pekerjaan secara merata dan bersinergi.

Kejujuran berpotensi ada pada setiap manusia tinggal ada tidaknya niat untuk mengaktifkannya. Selanjutnya kejujuran berjamaah akan berpotensi pada terciptanya jalan hidup benar entah di ruang keluarga, organisasi, pekerjaan, sampai pada taraf negara. Pasti menyenangkan

16 Agustus 2008

Wayang Potehi


Pertunjukan wayang yang saya kenal sejauh ini hanya berkutat pada tiga macam yaitu wayang kulit, wayang orang dan wayang golek.
Belum lama ini saya sadari kalo pemahaman itu sebentuk kekilafan sebagai manusia berbudaya. Atau celakanya memang saya belum termasuk manusia berbudaya:( ???
karena ternyata masih banyak jenis wayang yang lainnya.
Sebulan lalu iseng2 berhadiah saya mampir ke Kuil Sam Pok Ki (semoga tidak salah nulisnya) yang terletak di samping pasar Gedhe. Disitu ada pertunjukan wayang Potehi. Asik juga ternyata. Walo tak begitu mudeng dengan jalan ceritanya, minimal saya tambah koleksi pengalaman pernah melihat empat macam wayang:)
Ini sedikit jepretan saya yang rada kacau.




10 Agustus 2008

Renang Gratis





Musim kemarau serasa menjadi hiburan bagi anak-anak di sekitar bendungan Colo di Nguter Sukoharjo. Selain mendapat fasilitas gratis untuk menyalurkan kegemaran ber"keceh" ria, mereka juga bisa bermain disela-sela pemecah air yang pada musim hujan tak dapat mereka temui.Tak ambil pusing bagaimana nasib tanaman-tanaman milik pak tani yang semakin kering gara2 jatah air berkurang, mereka tetap asik menikmati tenangnya arus di dam itu.
Dari sudut pandang potret memotret, dam colo sewaktu airnya surut sangat menarilk dijadikan objek foto. Maen komposisi euy...hHe

28 Juli 2008

Indonesia City Expo




















Dua tahun hidup di Solo, rasanya tak asing dengan yang namanya kirab budaya. Mulai dari Solo Batik Carnival, Pernikahan Agung Sarwana-Menur, hingga kirab para walikota se-Indonesa Raya yang barusan diselenggarakan tgl 23 yang lalu. Keren juga sih....
Ngomong2 masalah kirab, baru kirab terakhirlah aku bisa tersenyum puas. Masalahnya jalannya kirab dari arah timur ke barat, dengan kata lain foto2 yang kujepret tidak mengalami kecelakaan gara2 backlight. hHe....i lup yu my Lumix. Tak ada SLR, Prosummer pun jadi:)

14 Juli 2008

SI KEAJAIBAN....



Tak terasa Dunia kanak2 sudah kutinggalkan kurang lebih 9 tahun yang lalu. Wouw...
ternyata aku memang sudah dewasa! hHe...

Kadang geli sendiri melihat geliat anak2 era 2008...Lucu, cerdas dan aktif. senang rasanya mengamati mereka saat tertawa, bersenda gurau dengan teman2 sebayanya.
Mereka adalah keajaiban yang hidup dan nyata.

Awalnya ia lahir ke dunia begitu mungil dan yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dan menangis. Lambat laun tangisan itu berubah menjadi kata2 yang terbata-bata Apalagi saat ia bisa berbicara dan memanggil ayah ibunya, betapa bahagia sang orang tuanya. Ya...keajaiban itu terus berjalan hingga waktu yang tak akan berujung. Mereka akan menjadi manusia2 dewasa yang melanjutkan kehidupan di bumi ini.

Maka, Sudah layak dan sepantasnya kita sebagai manusia2 dewasa untuk memperlakukan "si kecil" dengan baik. Pendidikan adalah bekal yang tak akan ternilai bagi mereka. Semoga negara ini juga lebih memperhatikan pendidikan bagi warga negaranya. Janganlah lagi dana untuk pendidikan terkalahkan untuk pengadaan mobil dinas atau sejenisnya. Toh tak ada ruginya memakai mobil lama atau bahkan naik sepeda ontel untuk menuju kantor.

Miris rasanya melihat anak2 kecil berlarian mengejar bus, mendendangkan lagu2 orang dewasa kepada para penumpang sekedar untuk mendapatkan uang receh. bEgitu dini hidup memasukkannya pada ruang yang diburu oleh uang. tawa, tangis dan canda ala anak2 tak sempat ia rasakan dengan sewajarnya anak2 seusianya.
sayang sekali...!!!

8 Juli 2008

Terima kasihku pada mu...pak DKP


Seragamnya orange, begitu khas..
bukan Tim nas Belanda..
Cukup pegawai Dinas Kebersihan Kota alias DKP.
Tapi jangan salah, tugasnya tak kalah gedhe jika dibandingkan dengan Tim Nas manapun. Hanya saja letak perbedaan ada di caranya menjalankan tugas. Ia bergaul dengan sampah dan kotoran dalam macam2 versi.
Hidupnya sama dengan pengabdian. Setiap hari ia bangun mendahului orang kebanyakan, entah duluan siapa antara ayam jago dengan nya. Di kala matahari keluar dari peraduannya, ia telah menyelesaikan tugasnya mempersiapkan kehidupan kota yang asri dan bersih dari sampah. Membuat gairah kerja manusia lebih tinggi karena kotanya enak dipandang mata. MATUR NUWUN YA PAK...:)
Aku salut pada orang2 yang mau bekerja apa pun demi hakikat hidup. Tak malu pada omongan orang. Yaa...memang latar belakang pendidikan mau tak mau akan mengkotak-kotakkan manusia dalam mencari penghidupan. Tapi apapun pekerjaannya, satu kebenaran yang harus dianut oleh setiap manusia adalah tanggungjawab dan kerja keras.

7 Juli 2008

HATI-HATI BANYAK TERORIS…!!!

Palembang kemaren digemparkan dengan penemuan BoM beserta perakitnya. Gilak…ternyata teroris masih berkeliaran di tanah Indonesia euy! Aku heran sama yang namanya teroris, apa sih yang ada dalam otak mereka? Terlepas dari sama ato tidaknya agamaku dengan mereka, atas nama kemanusiaan yang namanya membunuh itu dosa kan? Apakah dengan jalan meledakkan bom, memusnahkan orang2 asing yang dianggap biangnya dosa berarti menyucikan diri? Padahal dengan aksi pembunuhan itu bukanlah suci yang didapat justru menodai diri menjadi lebih hina.

29 Mei 2008

DPR...maafkan jika aku tak seperti yang dulu

Boleh percaya, boleh tidak.
Pada zaman dahulu kala saat aku masih SD, aku paling hobi sama yang namanya nonton siaran langsung sidang umum MPR. Kalau tak salah ingat, dulu siarannya hanya ditayangkan di TVRI. Aku tertarik karena alasan sepele,
"Bapak2 yang pada sidang kok keren2 banget yah? pada pake jas, berwibawa, pandai ngomong! keliatane kok cerdas banget." Paling senang kalau palu sudah diketuk. Seperti ikut empati merasakan penderitaan sidang sudah berakhir. Yang namanya panitia add Hock, Fraksi Persatuan Pembangunan, Golongan Karya, Utusan Golongan, Utusan Daerah sampai nama2 "seleb"nya DPR kala itu seperti Theo L Sambuaga as ketua DPP Golkar, Pak Harmoko, Siti Hartati Murdaya sbg perwakilan utusan golongan begitu familiar di telingaku. Sekarang kalau ditanya siapa saja anggota DPR yang kukenali paling pentok Agung Laksana karena dia ketua yang lagi menjabat. Semua Mahasiswa semestinya pada tahu. Jadi kuanggap kalau aku tahu bukan sebagai suatu prestasi alias itu sudah sewajarnya tahu.

Perjalanan dari SD di tahun 90-an hingga sekarang telah membawaku ke bangku perguruan tinggi. Secara fisik dan psikologi aku mulai berkembang. Namun ternyata "hobiku" tak berkembang.
Hauwhfff.....
Entah DPRnya yang berubah, atau akunya yang berubah dan "tidak setia", atau memang aku baru sadar kalau DPR sebenarnya memang seperti apa yang aku pahami di era 2008 ini?
Gilak...
cukup satu kata buat DPR saat ini..."MENGECEWAKAN"

Sidang isinya adu mulut, lempar2an kursi..aduh,aduh..kok gitu yah?
Jadi ingat Gus Dur deh
"DPR kaya taman kanak- kanak"

Pernah nonton Snapshot di MetroTV?
Dua bulan yang lalu liputannya seputar anggota dewan yang terhormat, terkait dengan hebohnya renovasi gedung dan penggantian karpet yang fungsinya masih sebagai landasan kaki berjalan. Kata orang, renovasi itu cukup memakan biaya besar bahkan bisa disebut pemborosan. Ditambah lagi dengan pengajuan kenaikan gaji anggota dewan yang "rajin" diusulkan.
hauwhff lagi....

Di Unit Kegiatan Mahasiswa (ukm) yang kuikuti di kampus, suatu kali aku pernah ikut tim pengamandemen AD/ART. Apa yang kurasakan?
kalo bahasa jawa istilahnya "njlimet"!! (rumit). pantesan anggota DPR minta gajinya naik terus. Namun apakah Urusan njlimet cukup membenarkan angka gaji yang kadang tidak rasional? ditambah lagi serentetan kasus yang "aneh2 saja". Bandingkan dengan sodara2 kita yang untuk makan saja butuh memeras keringat, untuk tidur saja hanya beralaskan lantai dingin di emperan toko2. Jangan salah ya..merekalah yang sesungguhnya "raja" di negeri ini. Ironis sekali....justru mereka terlupakan:(
Memang sih, anggota DPR tak semua seburuk yang aku tulis di atas. Tapi jangan salahkan aku jika pernah terlontar ungkapan sinis ini. Aku hanya ingin sedikit belajar menggunakan hakku yang sampai detik ini masih dilindungi UUD 1945 pasal 28. Entah apa persepsi orang lain, tapi kurasa tak akan jauh dari pendapatku (kecuali kalau ada yang ayah, kakak atau sodaranya anggota DPR).

Kemiskinan di Indonesia rasanya semakin menjadi-jadi saja.
Rintihan pra sampai pasca kenaikan harga bbm belum berhenti.
kontroversi bergema dimana-mana. Belum selesai kasus bbm muncul blt.
BLT ibarat sebutir gula untuk mengobati pedasnya penderitaan hidup oleh cabe satu kilo.
Dan Kucuran dana BLT pun tak luput dari kontroversi.
Terlepas dari setuju atau tidak, aku lebih tertarik pada satu kisah di semarang dan lamongan. Di harian kompas kemaren (28 mei 2008) halaman depan terpampang judul " Mereka lebih miskin daripada saya....."
Feature itu mengisahkan adanya solidaritas antar warga kurang mampu penerima BLT yang menyisihkan 60-150 ribu untuk disumbangkan pada tetangganya yang semestinya turut mendapat BLT tetapi tidak ikut terdata. Luar biasa, mereka berbagi dalam kekurangan. God...masih ada orang yang begitu solider. Aku benar2 terharu. Semoga Tuhan akan sungguh melimpahkan rejeki bagi orang yang masih murah hati di jaman "edan" seperti saat ini.Amien.









23 April 2008

Flu burung

barusan mamiq sms..
katanya ada tetanggaq dan kebetulan juga masih sodara, meninggal dunia.
Yang membuatku sedikit terkejut adalah penyebab kematiannya disinyalir karena flu burung...
oh God....dekat sekali virus itu dengan tempat tinggal keluargaku di wonogiri sana.
semoga saja tak ada masalah berkepanjangan seputar kasus itu.
Kalau sedikit flashback ke masa lalu, yang namanya flu burung tu lebih dikenal dengan penyakit tetelo. Dulu pas aku masih SD, di pagi buta sebelum mandi, aku mendapat tugas dari mami untuk memberi makan ayam peliharaan bapak. Rasanya senang sekali melihat kerumunan hewan2 itu makan bersama. Mungkin kalau pada manusia mereka akan saling berebut sambil bercanda tawa seperti yang dilakukan anak2 kecil. Namun, sayang sekali pemandangan itu sudah tak pernah terlihar di halaman barat rumahku. Dari jumlah hampir lima puluh, ayam peliharaan bapak tinggal hitungan jari tangan saja. Mengenaskan bukan?! Matinya dulu juga pas santer2nya wabah flu burung. Matinya ayam2 itu tidak begitu ditakuti karena memang orang2 di sekitarku yakin penyakit itu tidak bakal menular ke manusia. Tapi dengan kasus kali ini, kira2 seberapa shocknya masyarakat di sekitar rumahku ya?
Sayangnya sekarang aku masih di Solo, sehingga kondisi itu tak dapat aku amati.
semoga keluarga yang ditinggalkan akan mendapat kekuatan. Amien

12 April 2008

Peran Budaya, Opinion Leader dan Media Massa terhadap Sistem Komunikasi Indonesia

Kurang begitu ingat pastinya kapan, tetapi dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini, ada sebuah iklan rokok di layar kaca yang cukup menarik perhatian saya. Melihat iklan- iklan sebelumnya, terbaca bahwa segmentase produk disasarkan pada kelas masyarakat yang berjiwa muda, kritis dan kreatif. Tema iklannya begitu khas berupa kritik sosial terhadap kondisi yang terjadi di Indonesia pada umumnya antara lain mengenai budaya tidak tepat waktu atau jam karet, birokrasi yang berbelit- belit, korupsi dan masih banyak lagi. Iklan yang satu kali ini mengambil setting sebuah perjalanan wisata yang dilakukan oleh pasangan- pasangan suami istri ke Candi Borobudur dalam sebuah bus. Bersama dengan rombongan itu terdapat seorang sopir-laki-laki paruh baya- dan seorang pemandu wisata-perempuan yang masih muda-.

Dua kondisi yang menarik yaitu; Pertama, saat pemandu wisata memaparkan sejarah Candi Borobudur, tak satu pun wisatawan yang meggubrisnya. Telah dicoba berkali- kali tetapi hasilnya tetap nihil. Babak kedua, si pemandu wisata mempunyai ide untuk bertukar posisi dengan pak sopir. Namun yang memaparkan wawawsan wisata tetap si pemandu karena ia menyetir sambil bercerita, hanya saja secara “kelihatan” pak sopirlah yang berbicara. Lalu apa yang terjadi? Ternyata kehadiran pak sopir paruh baya itu justru mendapat perhatian. Jika informasi yang disampaikan pada dasarnya sama -dengan ilustrasi sumber informasi yang sama-, lalu hal apakah yang menjadikan berbeda antara mulut pak sopir dan si pemandu wisata?

Ilustrasi iklan itu tentunya tidak dapat kita artikan secara mentah- mentah karena dalam kondisi sebenarnya akan janggal sekali terjadi. Namun, apabila kita cermati lebih dalam ada setidaknya dua point yang patut kita kritisi yaitu faktor usia dan gender. Sadar tidak sadar, itulah fakta di negara ini, bahwa faktor usia dan jenis kelamin yang secara khusus diarahkan pada generasi tua jika berdasarkan usia dan laki- laki jika didasarkan jenis kelamin mendapatkan prioritas paling depan. Akan menjadi urusan penting yang selalu dipertimbangkan lama sekali jika golongan berseberangan yaitu generasi muda dan kaum wanita muncul ke permukaan. Lihat saja bagaimana proses penggodogan keputusan kuota perempuan dalam keanggotaan DPR dan kelayakan wanita untuk duduk di kursi kepresidenan pada saat Megawati akan menjadi presiden wanita pertama di Republik Indonesia kala itu. Apakah kondisi ini dianggap sebagai sebuah ketidakadilan? Rasanya tidak semudah itu juga untuk menyimpulkannya.

Selama 63 tahun republik ini berdiri, selama itu jugalah piranti dasar Indonesia semakin menjadi paten dan permanen. Piranti itu terdiri atas kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya. Piranti- piranti itu bergabung menjadi satu yang disebut sistem[1]. Paten yang dimaksud adalah hal apa yang terkandung dalam sistem semakin lama semakin mengakar dan mendarah daging. Tanpa menghafal pun sudah paham dan diyakini kebenarannya. Sistem memiliki sifat yang kompleks dan terstruktur. Akan sangat sulit mengubah ssstem karena butuh waktu yang tidak sebentar dan butuh juga kesiapan untuk menghadapi konsekwensi- konsekwensi yang tak terduga. Saat kita ingin membaharui sistem sosial budaya Indonesia, tidaklah hanya dengan memperbaiki sendi budaya karena dengan mengotak- atik budaya, retakan akan merembet ke masalah ekonomi, poitik dan sebagainya. Semua elemen mau tidak mau direvitalisasi juga.

Faktor senioritas dan gender lebih dekat sebagai kajian budaya. Bahkan dalam agama pun ada aturan seputar gender hubungannya dengan hak dan kewajiban dalam ritual agama. Namun untuk selanjutnya masalah gender tidak akan terlalu dalam dibahas dalam tulisan ini. Hal yang lebih digali adalah unsur senioritas dalam kehidupan sosial masyarakat kita hubungannya dengan sistem sosial budaya Indonesia dan selanjutnya dengan Sistem Komunikasi Indonesia (SKI).

Pengaruh Budaya terhadap Sistem Komunikasi Indonesia

Indonesia adalah Negara multikultural. Rasanya sulit memberi patokan ciri apa yang menjadi kekhasan pada setiap unsur budayanya. Kekhasan yang paling bijak mungkin terletak pada kata muntikultural itu sendiri. Setiap Negara memiliki kekhasan dan multikutiral itulah yang membedakan Indonesia dengan negara lain.

Sistem sosial budaya Indonesia berhubungan dengan sistem politik, sistem komunikasi dan sistem- ssstem lainnya. Secara berurutan dari yang khusus ke umum, hubungan yang terjadi adalah sebagai berikut: sistem komunikasi menjadi bagian dari sistem sosial. Sistem komunikasi Indonesia menjadi bagian dari sistem sosial budaya Indonesia. Setiap sistem memiliki kesempatan untuk saling mempengaruhi dan dipengaruhi.

Bagaimana posisi SKI di antara sIstem yang lain? SKI itu bersifat interdisiplier, ia tidak dapat berdiri sendiri. Dalam masyarakat Indonesia, otomatis corak, bentuk, dan keragaman budaya begitu kental mempengaruhnya.

Faktor senioritas yang diilustrasikan pada contoh iklan rokok di atas menunjukkan betapa budaya begitu berpengaruh dalam pola komunikasi masyarakat. Entah kebiasaan itu berakar dari suku atau adat mana, yang jelas sekarang kondisi itulah yang terjadi, yang tua akan lebih didengar karena dipercaya sudah “kenyang makan asam garam”

Sistem Komunikasi Indonesia berdasarkan letak Geografis

Kajian budaya akan terlihat detail hubungannya dengan Sistem Komunikasi Indonesia apabila ruang lingkup dan karakternya diketahui scara jelas. Menurut geografisnya, SKI dibagi menjadi dua bagian besar yaitu siem komunikasi pedesaan dan perkotaan. Masing- masing daerah memiliki ciri khas mendasar. Sistem kmunikasi di pedesaan lebih kuat dalam menjalankan komunikasi antar personal. Sedangkan sistem komunikasi perkotaan lebih dipercayakan pada media massa. Hal itu ada hubungannya dengan unsur sosiologis.

Masyarakat pedesaan bercirikan homogen, terbingkai dalam aturan- atiuran nilai adat yang kuat dan sedikit tertutup. Keluar masuknya informasi dalam lingkungan tertumpu pada hubungan personal. Selain faktor verbal, komunikasi di pedesaan sangat tergantung pada kehadiran sosok opinion leader. Opinion leader adalah orang yang dipercaya menjadi titik tolak dan poros bagi masyarakat setempat. Wujud nyata opinion leader akan ditemui pada sosok pemuka agama seperti Ustadz, Mubaligh, Pastor maupun sosok panutan seperti guru dan sesepuh. Opinion leader begitu sentral bagi berjalannya komunikasi pedesaan. Opinion leader secara garis besar dianggap sebagai orang yang lebih tahu sebagai pihak penerjemah pesan dari luar maupun ke dalam desa.

Indonesia dengan ciri khasnya sebagai negara multietnis akan memiliki sistem komunikasi yang beraneka ragam dalam heterogenitas suku. Sekalipun teknologi komunikasi sudah berembang pesat, tetapi dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang masih tinggal di pedesaan, maka peran opinion leader masih sangat besar. Jika dihubungkan dengan bahsan sebelumnya maka opinion leader termasuk sebagai golongan senior. Tidak hanya terbatas berdasarkan sekup wilayah tetapi dapat berada dalam lingkungan pergaulan, agama, dsb.

Opinion Leader ada di Setiap Level Komunikasi

Komunikasi yang terbagi menjadi empat level jika diamati akan melibatkan peran opinion leader. Pada level interpersonal, sekalipun sangat terbatas pasti tetap ada yang lebih dominan. Begitu juga dalam komunikasi kelompok, komunikasi organisasi dan komunikasi massa.

Pada komunikasi massa, opinion leader secara langsung akan diduduki oleh pelaku komunikasi oganisasi, demikian juga komunikasi organisasi memiliki opinion leader dari level- level dibawahnya. Hal yang mendasar yaitu bahwa opinion leader memiliki posisi yang cukup kuat untuk mempengaruhi khalayak. Kekuatan itu dapat berasal dari factor budaya, agama atau pengalaman.

Senioritas dan Teori Komunikasi

Faktor senioritas yang cukup berpengaruh di Indonesia pada umumnya dan masyarakat pedesaan pada khususnya apabila dikaji dalam teori komunikasi akan masuk pada aliran mikro khususnya effect research. Effect Research mengaalisas bagaimana efek media mampu menjangkau khalayak.

Kehadiran sosok opinion leader menunjukkan adanya keterlibatan yang kuat dari komunikasi interpersonal dalam proses komnuasi massa secara keseluruhan. Opinion leader itu sendiri merupakan individu dalam masyarakat yang menerima informasi dari media dan meneruskannya dalam kelompok asalnya.

Melalui media massa yang saai ini sudah semakin banyak berkembang dengan segementasi- segmentasi yang semakin sempit, masyarakat mulai dihadapkan pada kondisi untuk memilih. Dengan demikian arus efek media bisa langsung sampai pada audiens. Namun sekalipun demikian, adakalanya khalayak sangat tergantung pada informasi yang disampaikan oleh pihak tertentu yang dianggap berwenang. Sebagai contoh, saat kasus beberapa aliran sesat marak terjadi di Indonesia, secara legal dalam undang- undang sudah diatur ketentuan suatu aliran dikatakan sesat atau tidaknya. Resminya, aturan Negara berada di atas segalanya tetapi pada praktiknya ada hal yang dianggap paling final apabila sebuah fatwa dikeluarkan oleh Majelis Alim Ulama Indonesia (MUI). Mengapa justru yang dijadikan pedoman justru keputusan dari MUI? Hal itu kembali pada mayoritas orang Indonesia yang selain faktor geografis yang berpengaruh terhadap terbentuknya opinion leader, faktor agama juga dapat berpengaruh. Islam menjadi agama mayoritas penduduk Indonesia.

Dalam ruang lingkup umat Islam, filter informasi akan kembali kepada organisasi yang menaunginya. Jadi pada kasus ini, opinion leader diduduki oleh pelaku komunikasi organisasi yang menyandang posisi mayoritas. Dari komunikasi organisasi yang dimaksud di atas sesungguhnya masih bisa diturunkan ke dalam kelas interpersonal yaitu berupa figur KH. Abdurrahman Wahid, Amin Rais, dan ulama- ulama lainnya.

Sebenarnya masih banyak contoh tentang adanya peran opinion leader dalam komunikasi, terlebih dalam SKI apalagi jika ditrunan dalam cakupan geografis yang lebih sempit. Garis besar dari teori Limited Effect adalah adanya tiga poros yaitu media massa, audience dan opinion leader.

Berhubung daerah- daerah di luar kota juga sedah terjamah oleh perkembangan teknologi dan informasi maka tidak menutup kemungkinan jika masyarakat sedah memliki pola konsumsi media massa, baik itu cetak maupun elektronik. Namun, pada prartiknya, apa yang disampaikan media kepada khalayak juga tak sesempurna yang didambakan. Untuk hal- hal yang laten seperti agama dan kepercayaan, peran opinion leader sangat kental nuansanya sebagai pamong yang menetralisir arus informasi.



[1] Sistem berasal adri bahasa Yunani yaitu systema yang berarti keseluruhan yang tersusun oleh sekian banyak bagian.

-Life is choice, life is process, it must go on, go on and go on-

akhirnya ngorbit juga

aku buat blog dah semingguan lebih deh...
tapi baru siap mental posting sekarang..:)
wauuu....menulis itu ternyata gampang-gampang susah yah!
kata orang, ketajaman tulisan akan bisa melebihi tajamnya mata pedang...
nah loh..yang kaya gitu-an yang pengen ta capai
semoga deh....

sedikit crita aja yah...seminggu ni aku berkutat dengan kewajiban kampus, mid semester n mid semester
semakin tambah umur ga terasa kuliah semakin bisa dinikmati
karena di komunikasi UNS semester 4 adalah semester penentuan, next semester mau ambil penjurusan apa di antara video, radio, Design grafis, PR ato Jurnalistik
semoga pilihanku besok bisa tepat lah...
minimal menuruti kata hati untuk mencapai cita-citaku kelak
sekarang sih proyekku lagi konsen buat latihan nulis

mau jadi apa aku nanti?
tunggu jam tayangnya lah..:)
hHe

-life is choice, life is process, it must go on, go on, and go on-