12 Januari 2009

JILBAB SOLO PUNYA CERITA

Kehadiran jilbab menjadi bagian dari pemandangan kita sehari-hari di Kota Solo. Mulai membuka mata di pagi hari hingga menutup mata di malam hari, baik dilingkungan se-RT hingga radius puluhan kilometer, silih berganti dapat ditemui gadis kecil, wanita muda hingga lanjut usia mengenakan jilbab atau kerudung. Apa sih fungsi jilbab sesungguhnya

Cikal bakal kerudung bukan asli dari bumi Indonesia. Berangkat dari budaya di Timur Tengah yang menyatu dengan konsep ajaran Islam, kini jilbab menjadi sebentuk simbolisasi agama bagi yang menyandangnya.

Jika ditilik berdasarkan kondisi geografis di Timur Tengah yang ,berada di atas gurun pasir, kehadiran kerudung memang sangat dibutuhkan agar rambut tak mudah lepek akibat terkena debu. Namun, dalam konsep agama Islam lebih menekankan fungsi jilbab sebagai penutup aurat sehingga mengurangi kemungkinan buruk dalam berinteraksi dengan lawan jenis.

Menurut Islam, setiap wanita muslim memang dianjurkan untuk mengenakan jilbab, tetapi pada prakteknya kembali pada kesadaran individunya sudah siap ataukah belum untuk mengenakan jilbab. Kesiapan secara lahir batin menjadi syarat utama karena jilbab berhubungan dengan simbol agama. Siapa yang mengenakannya harus mencitrakan esensi dari simbol itu sendiri. .

Lain dulu lain sekarang, kadar kesiapan memang masih diutamakan. Namun, kini muncul fenomena baru dimana jilbab hadir sebagai bagian dari mode. Semakin banyak wanita yang mengenakan jilbab yang fashionable. Rasanya tidak matching kalau tidak menggunakan jilbab yang senada dengan warna baju dsb. Dengan kata lain, kini tersedia bermacam-macam jilbab yang tak monoton pada bentuk konvensional yang berukuran besar-besar.


Dari Mindset Layar Kaca hingga Anthorium

Berpuluh-puluh bahkan ratusan jilbab memiliki nama. Nama itu tentunya sengaja dibuat agar ia mudah diingat. Bagi bisnis jilbab, kehadiran nama tentunya akan berpengaruh, semacam penglaris yang akan mendongkrak penjualan.

Berdasarkan survai di pusat-pusat grosir Solo, terdapat macam-macam nama jilbab yang kadangkala menimbulkan insting untuk tertawa karena ada-ada saja nama yang diberikan. Nama-nama jilbab yang sedang laris di pasaran Solo antara lain: Jilbab Segi Empat, Teh Ninih, Belah, Serut, Paris. Jilbab-jilbab Itu merupakan jilbab kategori sederhana. Selain itu, ada lagi jilbab yang beradaptasi dari tokoh utama sinetron atau film seperti: Jilbab Muslimah, Kun Fay a Kun, Ayat-Ayat Cinta dan Khumaira. Kategori jilbab ketiga yaitu penamaan berdasarkan asosiasi yang ditimbulkan dengan saat melihat, yaitu ada jilbab Jablay dan Jilbab Kucing Garong. Terakhir nama jilbab berdasarkan trend Anthorium yaitu ada jilbab Gelombang Cinta dan Jenmani.

Jilbab Segi empat menjadi jilbab yang sangat familiar karena sudah dikenal sejak dulu kala. Penggunaan jilbab ini cenderung membutuhkan waktu lama karena dari kain segi empat lebar harus ditata menggunakan acsesoris tambahan berupa jarum pentul atau bros agar bisa tertata sebagai jilbab.

Jilbab Belah. Jilbab ini merupakan generasi jilbab instant dengan variasi belahan ada yang disebut Belah Samping jika belahakn di bagian bahu, dan Belah tengah jika belahan berada di depan dada. Khusus untuk Jilbab belah tengah menggunakan acsesoris bros agar belahan tengah bias dirapikan dan tidak terbuka.

Jilbab Teh Ninih. Jilbab ini merupakan sub dari jilbab belah dengan belahan samping. Model ini beradaptasi dari jilbab yang dikenakan oleh isteri pertama Dai kondang Aa Gym. Tak butuh waktu lama untuk mengenakannya. Jilbab ini terdiri dari dua macam kain, pertama untuk kain pelindung wajah yang teksturnya lebih tebal serta kain yang melingkar hingga dada.

Jilbab Serut. Jilbab ini memiliki ciri khas serutan tali untuk mengencangkan bagian leher. Serutan bisa terletak di samping dan di tengah sehingga menimbulkan ornament lipatan di kedua titik itu.

Jilbab Muslimah. Untuk jilbab yang satu ini beradaptasi dari jilbab yang dikenakan Titi Kamal di Sinetron Muslimah yang ditayangkan di Indosiar. Bentuknya cukup simple hampir menyerupai Jilbab Teh Ninih, Namun divariasi dengan sehelai tali yang melingkar di leher dengan dikaitkan oleh kancing di belakang leher.

Jilbab Ayat-Ayat Cinta. Jilbab ini beradaptasi dari model yang dikenakan oleh Riyanti dalam perannya sebagai Aisyah di film Ayat-Ayat Cinta. Hampir sama dengan jilbab muslimah hanya talinya di samping kiri.

Jilbab Gelombang Cinta. Muncul setelah trend tanaman Anthorium beberapa tahun lalu. Motif yang membedakannya yaitu terletak pada lekuk-lekuk menyerupai gelombang yang melingkar bahu. Selain itu di luar jilbab ditambahi jilbab topi.

Jilbab Jenmani. Jilbab ini hampir sama dengan jilbab belah hanya saja ada tambahan acsesoris kain yang dipasang miring menyerupai tulang dau jenmani di bagian atas kepala.

Jilbab apa yang akan muncul selanjutnya, silahkan tunggu saja. Para tim kreatif jilbab pasti sedang sibuk mencari nama-nama baru. Tak lebih dari 3 bulan diperkirakan akan ada nama-nama baru yang meramaikan keluarga jilbab:).

4 November 2008

PEMILU AS AJANG BELAJAR BAGI INDONESIA

Pemilihan umum Amerika Serikat akhirnya dilaksanakan pada 4 November ini. Selasa pertama setelah senin pertama di bulan November masih dipilih secara turun temurun sebagai hari pemilihan di negara adidaya itu.

Setelah melalui proses cukup panjang yang penuh kontoversi diwarnai perang argument hingga kampanye hitam, pembuktian siapa yang terpilih sebagai orang nomor satu AS atau bahkan orang nomor satu dunia hanya dapat akan terjawab pada 15 Desember nanti setelah electoral votes memutuskannya.

Entah bagaimana yang terjadi di Negara Amerika sana, entah juga dengan Negara-negara lain diluar Indonesia. Yang terasa bagi saya setiap membaca sebuah surat kabar atau pun melihat siaran televisi ada kesan bahwa media-media di Indonesia sengaja mengagendakan bahwa “Indonesia mendukung Obama”. Sebentuk agenda settingkah?

Nilai kedekatan Obama memang tak terelakkan sebagai daya tarik yang menjual bagi suatu informasi. Pernah mengenyam hidup di negara kepulauan ini seakan-akan menganggap Obama sebagai bagian dari Indonesia. Ironisnya, ia di Indonesia hanya sampai masa SD dan menurut saya hal itu tak cukup membanggakan. Akan lebih beralasan apabila ia lulusan UNS atau UGM, itu baru namanya berita.

Indonesia boleh saja mengelu-elukan Mc Cain atau Obama. Siapa pun yang terpilih bukan kita yang menentukan, tetapi warga AS sendiri. Kita boleh saja antusias karena ada kepentingan Indonesia untuk menciptakan hubungan baik dengan ”Negara superpower” itu. Namun, alangkah baiknya jika kita tak lupa belajar dari sistem Negara pilar liberalisme itu.

Belajar tak mesti meniru mentah-mentah, tetapi belajar adalah mengambil apa yang baik dan membiarkan hal yang dianggap kurang pas. Kembali kepada hakikat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, bercirikan Pancasila maka itulah yang menjadi filter apa yang pantas di ambil dan apa yang tak pantas di ambil.

Indonesia sendiri akan menggelar perhelatan akbar memilih presiden pada 2009. Namun rasanya kita jauh lebih tertarik dengan yang terjadi di Negara yang amat jauh di seberang samudera sana. Mengapa? Karena mereka jauh lebih tertata oleh tanggung jawab, semangat pengabdian dan logika yang jalan, berbeda dengan kita yang semangatnya saja demi mendapatkan kesenangan, kalau tidak tercapai yang maju egonya.

Kita patut bangga dengan system pemilihan umum dimana sebagai rakyat kita didudukkan sebagai “the real king” untuk memilih siapa presidennya. Namun awas, yang kita pilih bukan popularitasnya, tetapi kualitasnya. Siapa pemimpin RI selanjutnya semoga ia benar-benar karena semangat melayani yang kecil, lemah dan tersingkir.

26 Oktober 2008

Mengapa harus orang lain yang menjadi wasit?

Suatu permainan akan dianggap sah apabila ada wasitnya. Adakah kemungkinan suatu permainan khususnya yang identik dengan keberadaan atau bantuan wasit suatu ketika harus berjalan tanpa wasit? Dengan alasan seluruh wasit di seluruh dunia sedang rapat akbar atau liburan bersama ke Hawaii!! (maap..ilustrasi yang sangat koya.hHa). Jadi nanti semisal Christ John ingin bertanding dengan lawannya, PERSIJA bertanding melawan Persis, Sony Dwi Kuncoro meawan Lin Dan, mereka harus siap bermain dari awal tanpa akhir dengan mandiri, gak asal maen dan yang jelas ada kejujuran yang benar-benar jujur untuk mengatakan out atau masuk serta menghitung skor kemenangan secara bersama berdasarkan asas kekeluargaan tanpa rebutan dan anarkisme.

Dalam konteks riil mungkin ini terlalu mengada-ada dan hanya akan berhenti sbg bahan banyolan belaka, tetapi saat kita skeptis mencerna bagaimana kejujuran saat ini saya rasa banyak hal yang bisa kaji. Bisa jadi manusia memang pentok tak bisa jujur secara suratan takdir, atau memang karena asas monodualisme dimana peran orang lain sangat dibutuhkan sehingga dibuatlah konsep wasit untuk memberi lapangan pekerjaan secara merata dan bersinergi.

Kejujuran berpotensi ada pada setiap manusia tinggal ada tidaknya niat untuk mengaktifkannya. Selanjutnya kejujuran berjamaah akan berpotensi pada terciptanya jalan hidup benar entah di ruang keluarga, organisasi, pekerjaan, sampai pada taraf negara. Pasti menyenangkan

16 Agustus 2008

Wayang Potehi


Pertunjukan wayang yang saya kenal sejauh ini hanya berkutat pada tiga macam yaitu wayang kulit, wayang orang dan wayang golek.
Belum lama ini saya sadari kalo pemahaman itu sebentuk kekilafan sebagai manusia berbudaya. Atau celakanya memang saya belum termasuk manusia berbudaya:( ???
karena ternyata masih banyak jenis wayang yang lainnya.
Sebulan lalu iseng2 berhadiah saya mampir ke Kuil Sam Pok Ki (semoga tidak salah nulisnya) yang terletak di samping pasar Gedhe. Disitu ada pertunjukan wayang Potehi. Asik juga ternyata. Walo tak begitu mudeng dengan jalan ceritanya, minimal saya tambah koleksi pengalaman pernah melihat empat macam wayang:)
Ini sedikit jepretan saya yang rada kacau.




10 Agustus 2008

Renang Gratis





Musim kemarau serasa menjadi hiburan bagi anak-anak di sekitar bendungan Colo di Nguter Sukoharjo. Selain mendapat fasilitas gratis untuk menyalurkan kegemaran ber"keceh" ria, mereka juga bisa bermain disela-sela pemecah air yang pada musim hujan tak dapat mereka temui.Tak ambil pusing bagaimana nasib tanaman-tanaman milik pak tani yang semakin kering gara2 jatah air berkurang, mereka tetap asik menikmati tenangnya arus di dam itu.
Dari sudut pandang potret memotret, dam colo sewaktu airnya surut sangat menarilk dijadikan objek foto. Maen komposisi euy...hHe

28 Juli 2008

Indonesia City Expo




















Dua tahun hidup di Solo, rasanya tak asing dengan yang namanya kirab budaya. Mulai dari Solo Batik Carnival, Pernikahan Agung Sarwana-Menur, hingga kirab para walikota se-Indonesa Raya yang barusan diselenggarakan tgl 23 yang lalu. Keren juga sih....
Ngomong2 masalah kirab, baru kirab terakhirlah aku bisa tersenyum puas. Masalahnya jalannya kirab dari arah timur ke barat, dengan kata lain foto2 yang kujepret tidak mengalami kecelakaan gara2 backlight. hHe....i lup yu my Lumix. Tak ada SLR, Prosummer pun jadi:)

14 Juli 2008

SI KEAJAIBAN....



Tak terasa Dunia kanak2 sudah kutinggalkan kurang lebih 9 tahun yang lalu. Wouw...
ternyata aku memang sudah dewasa! hHe...

Kadang geli sendiri melihat geliat anak2 era 2008...Lucu, cerdas dan aktif. senang rasanya mengamati mereka saat tertawa, bersenda gurau dengan teman2 sebayanya.
Mereka adalah keajaiban yang hidup dan nyata.

Awalnya ia lahir ke dunia begitu mungil dan yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dan menangis. Lambat laun tangisan itu berubah menjadi kata2 yang terbata-bata Apalagi saat ia bisa berbicara dan memanggil ayah ibunya, betapa bahagia sang orang tuanya. Ya...keajaiban itu terus berjalan hingga waktu yang tak akan berujung. Mereka akan menjadi manusia2 dewasa yang melanjutkan kehidupan di bumi ini.

Maka, Sudah layak dan sepantasnya kita sebagai manusia2 dewasa untuk memperlakukan "si kecil" dengan baik. Pendidikan adalah bekal yang tak akan ternilai bagi mereka. Semoga negara ini juga lebih memperhatikan pendidikan bagi warga negaranya. Janganlah lagi dana untuk pendidikan terkalahkan untuk pengadaan mobil dinas atau sejenisnya. Toh tak ada ruginya memakai mobil lama atau bahkan naik sepeda ontel untuk menuju kantor.

Miris rasanya melihat anak2 kecil berlarian mengejar bus, mendendangkan lagu2 orang dewasa kepada para penumpang sekedar untuk mendapatkan uang receh. bEgitu dini hidup memasukkannya pada ruang yang diburu oleh uang. tawa, tangis dan canda ala anak2 tak sempat ia rasakan dengan sewajarnya anak2 seusianya.
sayang sekali...!!!

8 Juli 2008

Terima kasihku pada mu...pak DKP


Seragamnya orange, begitu khas..
bukan Tim nas Belanda..
Cukup pegawai Dinas Kebersihan Kota alias DKP.
Tapi jangan salah, tugasnya tak kalah gedhe jika dibandingkan dengan Tim Nas manapun. Hanya saja letak perbedaan ada di caranya menjalankan tugas. Ia bergaul dengan sampah dan kotoran dalam macam2 versi.
Hidupnya sama dengan pengabdian. Setiap hari ia bangun mendahului orang kebanyakan, entah duluan siapa antara ayam jago dengan nya. Di kala matahari keluar dari peraduannya, ia telah menyelesaikan tugasnya mempersiapkan kehidupan kota yang asri dan bersih dari sampah. Membuat gairah kerja manusia lebih tinggi karena kotanya enak dipandang mata. MATUR NUWUN YA PAK...:)
Aku salut pada orang2 yang mau bekerja apa pun demi hakikat hidup. Tak malu pada omongan orang. Yaa...memang latar belakang pendidikan mau tak mau akan mengkotak-kotakkan manusia dalam mencari penghidupan. Tapi apapun pekerjaannya, satu kebenaran yang harus dianut oleh setiap manusia adalah tanggungjawab dan kerja keras.

7 Juli 2008

HATI-HATI BANYAK TERORIS…!!!

Palembang kemaren digemparkan dengan penemuan BoM beserta perakitnya. Gilak…ternyata teroris masih berkeliaran di tanah Indonesia euy! Aku heran sama yang namanya teroris, apa sih yang ada dalam otak mereka? Terlepas dari sama ato tidaknya agamaku dengan mereka, atas nama kemanusiaan yang namanya membunuh itu dosa kan? Apakah dengan jalan meledakkan bom, memusnahkan orang2 asing yang dianggap biangnya dosa berarti menyucikan diri? Padahal dengan aksi pembunuhan itu bukanlah suci yang didapat justru menodai diri menjadi lebih hina.

29 Mei 2008

DPR...maafkan jika aku tak seperti yang dulu

Boleh percaya, boleh tidak.
Pada zaman dahulu kala saat aku masih SD, aku paling hobi sama yang namanya nonton siaran langsung sidang umum MPR. Kalau tak salah ingat, dulu siarannya hanya ditayangkan di TVRI. Aku tertarik karena alasan sepele,
"Bapak2 yang pada sidang kok keren2 banget yah? pada pake jas, berwibawa, pandai ngomong! keliatane kok cerdas banget." Paling senang kalau palu sudah diketuk. Seperti ikut empati merasakan penderitaan sidang sudah berakhir. Yang namanya panitia add Hock, Fraksi Persatuan Pembangunan, Golongan Karya, Utusan Golongan, Utusan Daerah sampai nama2 "seleb"nya DPR kala itu seperti Theo L Sambuaga as ketua DPP Golkar, Pak Harmoko, Siti Hartati Murdaya sbg perwakilan utusan golongan begitu familiar di telingaku. Sekarang kalau ditanya siapa saja anggota DPR yang kukenali paling pentok Agung Laksana karena dia ketua yang lagi menjabat. Semua Mahasiswa semestinya pada tahu. Jadi kuanggap kalau aku tahu bukan sebagai suatu prestasi alias itu sudah sewajarnya tahu.

Perjalanan dari SD di tahun 90-an hingga sekarang telah membawaku ke bangku perguruan tinggi. Secara fisik dan psikologi aku mulai berkembang. Namun ternyata "hobiku" tak berkembang.
Hauwhfff.....
Entah DPRnya yang berubah, atau akunya yang berubah dan "tidak setia", atau memang aku baru sadar kalau DPR sebenarnya memang seperti apa yang aku pahami di era 2008 ini?
Gilak...
cukup satu kata buat DPR saat ini..."MENGECEWAKAN"

Sidang isinya adu mulut, lempar2an kursi..aduh,aduh..kok gitu yah?
Jadi ingat Gus Dur deh
"DPR kaya taman kanak- kanak"

Pernah nonton Snapshot di MetroTV?
Dua bulan yang lalu liputannya seputar anggota dewan yang terhormat, terkait dengan hebohnya renovasi gedung dan penggantian karpet yang fungsinya masih sebagai landasan kaki berjalan. Kata orang, renovasi itu cukup memakan biaya besar bahkan bisa disebut pemborosan. Ditambah lagi dengan pengajuan kenaikan gaji anggota dewan yang "rajin" diusulkan.
hauwhff lagi....

Di Unit Kegiatan Mahasiswa (ukm) yang kuikuti di kampus, suatu kali aku pernah ikut tim pengamandemen AD/ART. Apa yang kurasakan?
kalo bahasa jawa istilahnya "njlimet"!! (rumit). pantesan anggota DPR minta gajinya naik terus. Namun apakah Urusan njlimet cukup membenarkan angka gaji yang kadang tidak rasional? ditambah lagi serentetan kasus yang "aneh2 saja". Bandingkan dengan sodara2 kita yang untuk makan saja butuh memeras keringat, untuk tidur saja hanya beralaskan lantai dingin di emperan toko2. Jangan salah ya..merekalah yang sesungguhnya "raja" di negeri ini. Ironis sekali....justru mereka terlupakan:(
Memang sih, anggota DPR tak semua seburuk yang aku tulis di atas. Tapi jangan salahkan aku jika pernah terlontar ungkapan sinis ini. Aku hanya ingin sedikit belajar menggunakan hakku yang sampai detik ini masih dilindungi UUD 1945 pasal 28. Entah apa persepsi orang lain, tapi kurasa tak akan jauh dari pendapatku (kecuali kalau ada yang ayah, kakak atau sodaranya anggota DPR).

Kemiskinan di Indonesia rasanya semakin menjadi-jadi saja.
Rintihan pra sampai pasca kenaikan harga bbm belum berhenti.
kontroversi bergema dimana-mana. Belum selesai kasus bbm muncul blt.
BLT ibarat sebutir gula untuk mengobati pedasnya penderitaan hidup oleh cabe satu kilo.
Dan Kucuran dana BLT pun tak luput dari kontroversi.
Terlepas dari setuju atau tidak, aku lebih tertarik pada satu kisah di semarang dan lamongan. Di harian kompas kemaren (28 mei 2008) halaman depan terpampang judul " Mereka lebih miskin daripada saya....."
Feature itu mengisahkan adanya solidaritas antar warga kurang mampu penerima BLT yang menyisihkan 60-150 ribu untuk disumbangkan pada tetangganya yang semestinya turut mendapat BLT tetapi tidak ikut terdata. Luar biasa, mereka berbagi dalam kekurangan. God...masih ada orang yang begitu solider. Aku benar2 terharu. Semoga Tuhan akan sungguh melimpahkan rejeki bagi orang yang masih murah hati di jaman "edan" seperti saat ini.Amien.









23 April 2008

Flu burung

barusan mamiq sms..
katanya ada tetanggaq dan kebetulan juga masih sodara, meninggal dunia.
Yang membuatku sedikit terkejut adalah penyebab kematiannya disinyalir karena flu burung...
oh God....dekat sekali virus itu dengan tempat tinggal keluargaku di wonogiri sana.
semoga saja tak ada masalah berkepanjangan seputar kasus itu.
Kalau sedikit flashback ke masa lalu, yang namanya flu burung tu lebih dikenal dengan penyakit tetelo. Dulu pas aku masih SD, di pagi buta sebelum mandi, aku mendapat tugas dari mami untuk memberi makan ayam peliharaan bapak. Rasanya senang sekali melihat kerumunan hewan2 itu makan bersama. Mungkin kalau pada manusia mereka akan saling berebut sambil bercanda tawa seperti yang dilakukan anak2 kecil. Namun, sayang sekali pemandangan itu sudah tak pernah terlihar di halaman barat rumahku. Dari jumlah hampir lima puluh, ayam peliharaan bapak tinggal hitungan jari tangan saja. Mengenaskan bukan?! Matinya dulu juga pas santer2nya wabah flu burung. Matinya ayam2 itu tidak begitu ditakuti karena memang orang2 di sekitarku yakin penyakit itu tidak bakal menular ke manusia. Tapi dengan kasus kali ini, kira2 seberapa shocknya masyarakat di sekitar rumahku ya?
Sayangnya sekarang aku masih di Solo, sehingga kondisi itu tak dapat aku amati.
semoga keluarga yang ditinggalkan akan mendapat kekuatan. Amien

12 April 2008

Peran Budaya, Opinion Leader dan Media Massa terhadap Sistem Komunikasi Indonesia

Kurang begitu ingat pastinya kapan, tetapi dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini, ada sebuah iklan rokok di layar kaca yang cukup menarik perhatian saya. Melihat iklan- iklan sebelumnya, terbaca bahwa segmentase produk disasarkan pada kelas masyarakat yang berjiwa muda, kritis dan kreatif. Tema iklannya begitu khas berupa kritik sosial terhadap kondisi yang terjadi di Indonesia pada umumnya antara lain mengenai budaya tidak tepat waktu atau jam karet, birokrasi yang berbelit- belit, korupsi dan masih banyak lagi. Iklan yang satu kali ini mengambil setting sebuah perjalanan wisata yang dilakukan oleh pasangan- pasangan suami istri ke Candi Borobudur dalam sebuah bus. Bersama dengan rombongan itu terdapat seorang sopir-laki-laki paruh baya- dan seorang pemandu wisata-perempuan yang masih muda-.

Dua kondisi yang menarik yaitu; Pertama, saat pemandu wisata memaparkan sejarah Candi Borobudur, tak satu pun wisatawan yang meggubrisnya. Telah dicoba berkali- kali tetapi hasilnya tetap nihil. Babak kedua, si pemandu wisata mempunyai ide untuk bertukar posisi dengan pak sopir. Namun yang memaparkan wawawsan wisata tetap si pemandu karena ia menyetir sambil bercerita, hanya saja secara “kelihatan” pak sopirlah yang berbicara. Lalu apa yang terjadi? Ternyata kehadiran pak sopir paruh baya itu justru mendapat perhatian. Jika informasi yang disampaikan pada dasarnya sama -dengan ilustrasi sumber informasi yang sama-, lalu hal apakah yang menjadikan berbeda antara mulut pak sopir dan si pemandu wisata?

Ilustrasi iklan itu tentunya tidak dapat kita artikan secara mentah- mentah karena dalam kondisi sebenarnya akan janggal sekali terjadi. Namun, apabila kita cermati lebih dalam ada setidaknya dua point yang patut kita kritisi yaitu faktor usia dan gender. Sadar tidak sadar, itulah fakta di negara ini, bahwa faktor usia dan jenis kelamin yang secara khusus diarahkan pada generasi tua jika berdasarkan usia dan laki- laki jika didasarkan jenis kelamin mendapatkan prioritas paling depan. Akan menjadi urusan penting yang selalu dipertimbangkan lama sekali jika golongan berseberangan yaitu generasi muda dan kaum wanita muncul ke permukaan. Lihat saja bagaimana proses penggodogan keputusan kuota perempuan dalam keanggotaan DPR dan kelayakan wanita untuk duduk di kursi kepresidenan pada saat Megawati akan menjadi presiden wanita pertama di Republik Indonesia kala itu. Apakah kondisi ini dianggap sebagai sebuah ketidakadilan? Rasanya tidak semudah itu juga untuk menyimpulkannya.

Selama 63 tahun republik ini berdiri, selama itu jugalah piranti dasar Indonesia semakin menjadi paten dan permanen. Piranti itu terdiri atas kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya. Piranti- piranti itu bergabung menjadi satu yang disebut sistem[1]. Paten yang dimaksud adalah hal apa yang terkandung dalam sistem semakin lama semakin mengakar dan mendarah daging. Tanpa menghafal pun sudah paham dan diyakini kebenarannya. Sistem memiliki sifat yang kompleks dan terstruktur. Akan sangat sulit mengubah ssstem karena butuh waktu yang tidak sebentar dan butuh juga kesiapan untuk menghadapi konsekwensi- konsekwensi yang tak terduga. Saat kita ingin membaharui sistem sosial budaya Indonesia, tidaklah hanya dengan memperbaiki sendi budaya karena dengan mengotak- atik budaya, retakan akan merembet ke masalah ekonomi, poitik dan sebagainya. Semua elemen mau tidak mau direvitalisasi juga.

Faktor senioritas dan gender lebih dekat sebagai kajian budaya. Bahkan dalam agama pun ada aturan seputar gender hubungannya dengan hak dan kewajiban dalam ritual agama. Namun untuk selanjutnya masalah gender tidak akan terlalu dalam dibahas dalam tulisan ini. Hal yang lebih digali adalah unsur senioritas dalam kehidupan sosial masyarakat kita hubungannya dengan sistem sosial budaya Indonesia dan selanjutnya dengan Sistem Komunikasi Indonesia (SKI).

Pengaruh Budaya terhadap Sistem Komunikasi Indonesia

Indonesia adalah Negara multikultural. Rasanya sulit memberi patokan ciri apa yang menjadi kekhasan pada setiap unsur budayanya. Kekhasan yang paling bijak mungkin terletak pada kata muntikultural itu sendiri. Setiap Negara memiliki kekhasan dan multikutiral itulah yang membedakan Indonesia dengan negara lain.

Sistem sosial budaya Indonesia berhubungan dengan sistem politik, sistem komunikasi dan sistem- ssstem lainnya. Secara berurutan dari yang khusus ke umum, hubungan yang terjadi adalah sebagai berikut: sistem komunikasi menjadi bagian dari sistem sosial. Sistem komunikasi Indonesia menjadi bagian dari sistem sosial budaya Indonesia. Setiap sistem memiliki kesempatan untuk saling mempengaruhi dan dipengaruhi.

Bagaimana posisi SKI di antara sIstem yang lain? SKI itu bersifat interdisiplier, ia tidak dapat berdiri sendiri. Dalam masyarakat Indonesia, otomatis corak, bentuk, dan keragaman budaya begitu kental mempengaruhnya.

Faktor senioritas yang diilustrasikan pada contoh iklan rokok di atas menunjukkan betapa budaya begitu berpengaruh dalam pola komunikasi masyarakat. Entah kebiasaan itu berakar dari suku atau adat mana, yang jelas sekarang kondisi itulah yang terjadi, yang tua akan lebih didengar karena dipercaya sudah “kenyang makan asam garam”

Sistem Komunikasi Indonesia berdasarkan letak Geografis

Kajian budaya akan terlihat detail hubungannya dengan Sistem Komunikasi Indonesia apabila ruang lingkup dan karakternya diketahui scara jelas. Menurut geografisnya, SKI dibagi menjadi dua bagian besar yaitu siem komunikasi pedesaan dan perkotaan. Masing- masing daerah memiliki ciri khas mendasar. Sistem kmunikasi di pedesaan lebih kuat dalam menjalankan komunikasi antar personal. Sedangkan sistem komunikasi perkotaan lebih dipercayakan pada media massa. Hal itu ada hubungannya dengan unsur sosiologis.

Masyarakat pedesaan bercirikan homogen, terbingkai dalam aturan- atiuran nilai adat yang kuat dan sedikit tertutup. Keluar masuknya informasi dalam lingkungan tertumpu pada hubungan personal. Selain faktor verbal, komunikasi di pedesaan sangat tergantung pada kehadiran sosok opinion leader. Opinion leader adalah orang yang dipercaya menjadi titik tolak dan poros bagi masyarakat setempat. Wujud nyata opinion leader akan ditemui pada sosok pemuka agama seperti Ustadz, Mubaligh, Pastor maupun sosok panutan seperti guru dan sesepuh. Opinion leader begitu sentral bagi berjalannya komunikasi pedesaan. Opinion leader secara garis besar dianggap sebagai orang yang lebih tahu sebagai pihak penerjemah pesan dari luar maupun ke dalam desa.

Indonesia dengan ciri khasnya sebagai negara multietnis akan memiliki sistem komunikasi yang beraneka ragam dalam heterogenitas suku. Sekalipun teknologi komunikasi sudah berembang pesat, tetapi dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang masih tinggal di pedesaan, maka peran opinion leader masih sangat besar. Jika dihubungkan dengan bahsan sebelumnya maka opinion leader termasuk sebagai golongan senior. Tidak hanya terbatas berdasarkan sekup wilayah tetapi dapat berada dalam lingkungan pergaulan, agama, dsb.

Opinion Leader ada di Setiap Level Komunikasi

Komunikasi yang terbagi menjadi empat level jika diamati akan melibatkan peran opinion leader. Pada level interpersonal, sekalipun sangat terbatas pasti tetap ada yang lebih dominan. Begitu juga dalam komunikasi kelompok, komunikasi organisasi dan komunikasi massa.

Pada komunikasi massa, opinion leader secara langsung akan diduduki oleh pelaku komunikasi oganisasi, demikian juga komunikasi organisasi memiliki opinion leader dari level- level dibawahnya. Hal yang mendasar yaitu bahwa opinion leader memiliki posisi yang cukup kuat untuk mempengaruhi khalayak. Kekuatan itu dapat berasal dari factor budaya, agama atau pengalaman.

Senioritas dan Teori Komunikasi

Faktor senioritas yang cukup berpengaruh di Indonesia pada umumnya dan masyarakat pedesaan pada khususnya apabila dikaji dalam teori komunikasi akan masuk pada aliran mikro khususnya effect research. Effect Research mengaalisas bagaimana efek media mampu menjangkau khalayak.

Kehadiran sosok opinion leader menunjukkan adanya keterlibatan yang kuat dari komunikasi interpersonal dalam proses komnuasi massa secara keseluruhan. Opinion leader itu sendiri merupakan individu dalam masyarakat yang menerima informasi dari media dan meneruskannya dalam kelompok asalnya.

Melalui media massa yang saai ini sudah semakin banyak berkembang dengan segementasi- segmentasi yang semakin sempit, masyarakat mulai dihadapkan pada kondisi untuk memilih. Dengan demikian arus efek media bisa langsung sampai pada audiens. Namun sekalipun demikian, adakalanya khalayak sangat tergantung pada informasi yang disampaikan oleh pihak tertentu yang dianggap berwenang. Sebagai contoh, saat kasus beberapa aliran sesat marak terjadi di Indonesia, secara legal dalam undang- undang sudah diatur ketentuan suatu aliran dikatakan sesat atau tidaknya. Resminya, aturan Negara berada di atas segalanya tetapi pada praktiknya ada hal yang dianggap paling final apabila sebuah fatwa dikeluarkan oleh Majelis Alim Ulama Indonesia (MUI). Mengapa justru yang dijadikan pedoman justru keputusan dari MUI? Hal itu kembali pada mayoritas orang Indonesia yang selain faktor geografis yang berpengaruh terhadap terbentuknya opinion leader, faktor agama juga dapat berpengaruh. Islam menjadi agama mayoritas penduduk Indonesia.

Dalam ruang lingkup umat Islam, filter informasi akan kembali kepada organisasi yang menaunginya. Jadi pada kasus ini, opinion leader diduduki oleh pelaku komunikasi organisasi yang menyandang posisi mayoritas. Dari komunikasi organisasi yang dimaksud di atas sesungguhnya masih bisa diturunkan ke dalam kelas interpersonal yaitu berupa figur KH. Abdurrahman Wahid, Amin Rais, dan ulama- ulama lainnya.

Sebenarnya masih banyak contoh tentang adanya peran opinion leader dalam komunikasi, terlebih dalam SKI apalagi jika ditrunan dalam cakupan geografis yang lebih sempit. Garis besar dari teori Limited Effect adalah adanya tiga poros yaitu media massa, audience dan opinion leader.

Berhubung daerah- daerah di luar kota juga sedah terjamah oleh perkembangan teknologi dan informasi maka tidak menutup kemungkinan jika masyarakat sedah memliki pola konsumsi media massa, baik itu cetak maupun elektronik. Namun, pada prartiknya, apa yang disampaikan media kepada khalayak juga tak sesempurna yang didambakan. Untuk hal- hal yang laten seperti agama dan kepercayaan, peran opinion leader sangat kental nuansanya sebagai pamong yang menetralisir arus informasi.



[1] Sistem berasal adri bahasa Yunani yaitu systema yang berarti keseluruhan yang tersusun oleh sekian banyak bagian.

-Life is choice, life is process, it must go on, go on and go on-

akhirnya ngorbit juga

aku buat blog dah semingguan lebih deh...
tapi baru siap mental posting sekarang..:)
wauuu....menulis itu ternyata gampang-gampang susah yah!
kata orang, ketajaman tulisan akan bisa melebihi tajamnya mata pedang...
nah loh..yang kaya gitu-an yang pengen ta capai
semoga deh....

sedikit crita aja yah...seminggu ni aku berkutat dengan kewajiban kampus, mid semester n mid semester
semakin tambah umur ga terasa kuliah semakin bisa dinikmati
karena di komunikasi UNS semester 4 adalah semester penentuan, next semester mau ambil penjurusan apa di antara video, radio, Design grafis, PR ato Jurnalistik
semoga pilihanku besok bisa tepat lah...
minimal menuruti kata hati untuk mencapai cita-citaku kelak
sekarang sih proyekku lagi konsen buat latihan nulis

mau jadi apa aku nanti?
tunggu jam tayangnya lah..:)
hHe

-life is choice, life is process, it must go on, go on, and go on-