Palembang kemaren digemparkan dengan penemuan BoM beserta perakitnya. Gilak…ternyata teroris masih berkeliaran di tanah Indonesia euy! Aku heran sama yang namanya teroris, apa sih yang ada dalam otak mereka? Terlepas dari sama ato tidaknya agamaku dengan mereka, atas nama kemanusiaan yang namanya membunuh itu dosa kan? Apakah dengan jalan meledakkan bom, memusnahkan orang2 asing yang dianggap biangnya dosa berarti menyucikan diri? Padahal dengan aksi pembunuhan itu bukanlah suci yang didapat justru menodai diri menjadi lebih hina.
7 Juli 2008
29 Mei 2008
DPR...maafkan jika aku tak seperti yang dulu
Pada zaman dahulu kala saat aku masih SD, aku paling hobi sama yang namanya nonton siaran langsung sidang umum MPR. Kalau tak salah ingat, dulu siarannya hanya ditayangkan di TVRI. Aku tertarik karena alasan sepele,
"Bapak2 yang pada sidang kok keren2 banget yah? pada pake jas, berwibawa, pandai ngomong! keliatane kok cerdas banget." Paling senang kalau palu sudah diketuk. Seperti ikut empati merasakan penderitaan sidang sudah berakhir. Yang namanya panitia add Hock, Fraksi Persatuan Pembangunan, Golongan Karya, Utusan Golongan, Utusan Daerah sampai nama2 "seleb"nya DPR kala itu seperti Theo L Sambuaga as ketua DPP Golkar, Pak Harmoko, Siti Hartati Murdaya sbg perwakilan utusan golongan begitu familiar di telingaku. Sekarang kalau ditanya siapa saja anggota DPR yang kukenali paling pentok Agung Laksana karena dia ketua yang lagi menjabat. Semua Mahasiswa semestinya pada tahu. Jadi kuanggap kalau aku tahu bukan sebagai suatu prestasi alias itu sudah sewajarnya tahu.
Perjalanan dari SD di tahun 90-an hingga sekarang telah membawaku ke bangku perguruan tinggi. Secara fisik dan psikologi aku mulai berkembang. Namun ternyata "hobiku" tak berkembang.
Hauwhfff.....
Entah DPRnya yang berubah, atau akunya yang berubah dan "tidak setia", atau memang aku baru sadar kalau DPR sebenarnya memang seperti apa yang aku pahami di era 2008 ini?
Gilak...
cukup satu kata buat DPR saat ini..."MENGECEWAKAN"
Sidang isinya adu mulut, lempar2an kursi..aduh,aduh..kok gitu yah?
Jadi ingat Gus Dur deh
"DPR kaya taman kanak- kanak"
Pernah nonton Snapshot di MetroTV?
Dua bulan yang lalu liputannya seputar anggota dewan yang terhormat, terkait dengan hebohnya renovasi gedung dan penggantian karpet yang fungsinya masih sebagai landasan kaki berjalan. Kata orang, renovasi itu cukup memakan biaya besar bahkan bisa disebut pemborosan. Ditambah lagi dengan pengajuan kenaikan gaji anggota dewan yang "rajin" diusulkan.
hauwhff lagi....
Di Unit Kegiatan Mahasiswa (ukm) yang kuikuti di kampus, suatu kali aku pernah ikut tim pengamandemen AD/ART. Apa yang kurasakan?
kalo bahasa jawa istilahnya "njlimet"!! (rumit). pantesan anggota DPR minta gajinya naik terus. Namun apakah Urusan njlimet cukup membenarkan angka gaji yang kadang tidak rasional? ditambah lagi serentetan kasus yang "aneh2 saja". Bandingkan dengan sodara2 kita yang untuk makan saja butuh memeras keringat, untuk tidur saja hanya beralaskan lantai dingin di emperan toko2. Jangan salah ya..merekalah yang sesungguhnya "raja" di negeri ini. Ironis sekali....justru mereka terlupakan:(
Memang sih, anggota DPR tak semua seburuk yang aku tulis di atas. Tapi jangan salahkan aku jika pernah terlontar ungkapan sinis ini. Aku hanya ingin sedikit belajar menggunakan hakku yang sampai detik ini masih dilindungi UUD 1945 pasal 28. Entah apa persepsi orang lain, tapi kurasa tak akan jauh dari pendapatku (kecuali kalau ada yang ayah, kakak atau sodaranya anggota DPR).
Kemiskinan di Indonesia rasanya semakin menjadi-jadi saja.
Rintihan pra sampai pasca kenaikan harga bbm belum berhenti.
kontroversi bergema dimana-mana. Belum selesai kasus bbm muncul blt.
BLT ibarat sebutir gula untuk mengobati pedasnya penderitaan hidup oleh cabe satu kilo.
Dan Kucuran dana BLT pun tak luput dari kontroversi.
Terlepas dari setuju atau tidak, aku lebih tertarik pada satu kisah di semarang dan lamongan. Di harian kompas kemaren (28 mei 2008) halaman depan terpampang judul " Mereka lebih miskin daripada saya....."
Feature itu mengisahkan adanya solidaritas antar warga kurang mampu penerima BLT yang menyisihkan 60-150 ribu untuk disumbangkan pada tetangganya yang semestinya turut mendapat BLT tetapi tidak ikut terdata. Luar biasa, mereka berbagi dalam kekurangan. God...masih ada orang yang begitu solider. Aku benar2 terharu. Semoga Tuhan akan sungguh melimpahkan rejeki bagi orang yang masih murah hati di jaman "edan" seperti saat ini.Amien.
23 April 2008
Flu burung
katanya ada tetanggaq dan kebetulan juga masih sodara, meninggal dunia.
Yang membuatku sedikit terkejut adalah penyebab kematiannya disinyalir karena flu burung...
oh God....dekat sekali virus itu dengan tempat tinggal keluargaku di wonogiri sana.
semoga saja tak ada masalah berkepanjangan seputar kasus itu.
Kalau sedikit flashback ke masa lalu, yang namanya flu burung tu lebih dikenal dengan penyakit tetelo. Dulu pas aku masih SD, di pagi buta sebelum mandi, aku mendapat tugas dari mami untuk memberi makan ayam peliharaan bapak. Rasanya senang sekali melihat kerumunan hewan2 itu makan bersama. Mungkin kalau pada manusia mereka akan saling berebut sambil bercanda tawa seperti yang dilakukan anak2 kecil. Namun, sayang sekali pemandangan itu sudah tak pernah terlihar di halaman barat rumahku. Dari jumlah hampir lima puluh, ayam peliharaan bapak tinggal hitungan jari tangan saja. Mengenaskan bukan?! Matinya dulu juga pas santer2nya wabah flu burung. Matinya ayam2 itu tidak begitu ditakuti karena memang orang2 di sekitarku yakin penyakit itu tidak bakal menular ke manusia. Tapi dengan kasus kali ini, kira2 seberapa shocknya masyarakat di sekitar rumahku ya?
Sayangnya sekarang aku masih di Solo, sehingga kondisi itu tak dapat aku amati.
semoga keluarga yang ditinggalkan akan mendapat kekuatan. Amien
12 April 2008
Peran Budaya, Opinion Leader dan Media Massa terhadap Sistem Komunikasi Indonesia
Kurang begitu ingat pastinya kapan, tetapi dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini, ada sebuah iklan rokok di layar kaca yang cukup menarik perhatian saya. Melihat iklan- iklan sebelumnya, terbaca bahwa segmentase produk disasarkan pada kelas masyarakat yang berjiwa muda, kritis dan kreatif. Tema iklannya begitu khas berupa kritik sosial terhadap kondisi yang terjadi di Indonesia pada umumnya antara lain mengenai budaya tidak tepat waktu atau jam karet, birokrasi yang berbelit- belit, korupsi dan masih banyak lagi. Iklan yang satu kali ini mengambil setting sebuah perjalanan wisata yang dilakukan oleh pasangan- pasangan suami istri ke Candi Borobudur dalam sebuah bus. Bersama dengan rombongan itu terdapat seorang sopir-laki-laki paruh baya- dan seorang pemandu wisata-perempuan yang masih muda-.
Dua kondisi yang menarik yaitu; Pertama, saat pemandu wisata memaparkan sejarah Candi Borobudur, tak satu pun wisatawan yang meggubrisnya. Telah dicoba berkali- kali tetapi hasilnya tetap nihil. Babak kedua, si pemandu wisata mempunyai ide untuk bertukar posisi dengan pak sopir. Namun yang memaparkan wawawsan wisata tetap si pemandu karena ia menyetir sambil bercerita, hanya saja secara “kelihatan” pak sopirlah yang berbicara. Lalu apa yang terjadi? Ternyata kehadiran pak sopir paruh baya itu justru mendapat perhatian. Jika informasi yang disampaikan pada dasarnya sama -dengan ilustrasi sumber informasi yang sama-, lalu hal apakah yang menjadikan berbeda antara mulut pak sopir dan si pemandu wisata?
Ilustrasi iklan itu tentunya tidak dapat kita artikan secara mentah- mentah karena dalam kondisi sebenarnya akan janggal sekali terjadi. Namun, apabila kita cermati lebih dalam ada setidaknya dua point yang patut kita kritisi yaitu faktor usia dan gender. Sadar tidak sadar, itulah fakta di negara ini, bahwa faktor usia dan jenis kelamin yang secara khusus diarahkan pada generasi tua jika berdasarkan usia dan laki- laki jika didasarkan jenis kelamin mendapatkan prioritas paling depan. Akan menjadi urusan penting yang selalu dipertimbangkan lama sekali jika golongan berseberangan yaitu generasi muda dan kaum wanita muncul ke permukaan. Lihat saja bagaimana proses penggodogan keputusan kuota perempuan dalam keanggotaan DPR dan kelayakan wanita untuk duduk di kursi kepresidenan pada saat Megawati akan menjadi presiden wanita pertama di Republik Indonesia kala itu. Apakah kondisi ini dianggap sebagai sebuah ketidakadilan? Rasanya tidak semudah itu juga untuk menyimpulkannya.
Selama 63 tahun republik ini berdiri, selama itu jugalah piranti dasar Indonesia semakin menjadi paten dan permanen. Piranti itu terdiri atas kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya. Piranti- piranti itu bergabung menjadi satu yang disebut sistem[1]. Paten yang dimaksud adalah hal apa yang terkandung dalam sistem semakin lama semakin mengakar dan mendarah daging. Tanpa menghafal pun sudah paham dan diyakini kebenarannya. Sistem memiliki sifat yang kompleks dan terstruktur. Akan sangat sulit mengubah ssstem karena butuh waktu yang tidak sebentar dan butuh juga kesiapan untuk menghadapi konsekwensi- konsekwensi yang tak terduga. Saat kita ingin membaharui sistem sosial budaya Indonesia, tidaklah hanya dengan memperbaiki sendi budaya karena dengan mengotak- atik budaya, retakan akan merembet ke masalah ekonomi, poitik dan sebagainya. Semua elemen mau tidak mau direvitalisasi juga.
Faktor senioritas dan gender lebih dekat sebagai kajian budaya. Bahkan dalam agama pun ada aturan seputar gender hubungannya dengan hak dan kewajiban dalam ritual agama. Namun untuk selanjutnya masalah gender tidak akan terlalu dalam dibahas dalam tulisan ini. Hal yang lebih digali adalah unsur senioritas dalam kehidupan sosial masyarakat kita hubungannya dengan sistem sosial budaya Indonesia dan selanjutnya dengan Sistem Komunikasi Indonesia (SKI).
Pengaruh Budaya terhadap Sistem Komunikasi Indonesia
Indonesia adalah Negara multikultural. Rasanya sulit memberi patokan ciri apa yang menjadi kekhasan pada setiap unsur budayanya. Kekhasan yang paling bijak mungkin terletak pada kata muntikultural itu sendiri. Setiap Negara memiliki kekhasan dan multikutiral itulah yang membedakan Indonesia dengan negara lain.
Sistem sosial budaya Indonesia berhubungan dengan sistem politik, sistem komunikasi dan sistem- ssstem lainnya. Secara berurutan dari yang khusus ke umum, hubungan yang terjadi adalah sebagai berikut: sistem komunikasi menjadi bagian dari sistem sosial. Sistem komunikasi Indonesia menjadi bagian dari sistem sosial budaya Indonesia. Setiap sistem memiliki kesempatan untuk saling mempengaruhi dan dipengaruhi.
Bagaimana posisi SKI di antara sIstem yang lain? SKI itu bersifat interdisiplier, ia tidak dapat berdiri sendiri. Dalam masyarakat Indonesia, otomatis corak, bentuk, dan keragaman budaya begitu kental mempengaruhnya.
Faktor senioritas yang diilustrasikan pada contoh iklan rokok di atas menunjukkan betapa budaya begitu berpengaruh dalam pola komunikasi masyarakat. Entah kebiasaan itu berakar dari suku atau adat mana, yang jelas sekarang kondisi itulah yang terjadi, yang tua akan lebih didengar karena dipercaya sudah “kenyang makan asam garam”
Sistem Komunikasi Indonesia berdasarkan letak Geografis
Kajian budaya akan terlihat detail hubungannya dengan Sistem Komunikasi Indonesia apabila ruang lingkup dan karakternya diketahui scara jelas. Menurut geografisnya, SKI dibagi menjadi dua bagian besar yaitu siem komunikasi pedesaan dan perkotaan. Masing- masing daerah memiliki ciri khas mendasar. Sistem kmunikasi di pedesaan lebih kuat dalam menjalankan komunikasi antar personal. Sedangkan sistem komunikasi perkotaan lebih dipercayakan pada media massa. Hal itu ada hubungannya dengan unsur sosiologis.
Masyarakat pedesaan bercirikan homogen, terbingkai dalam aturan- atiuran nilai adat yang kuat dan sedikit tertutup. Keluar masuknya informasi dalam lingkungan tertumpu pada hubungan personal. Selain faktor verbal, komunikasi di pedesaan sangat tergantung pada kehadiran sosok opinion leader. Opinion leader adalah orang yang dipercaya menjadi titik tolak dan poros bagi masyarakat setempat. Wujud nyata opinion leader akan ditemui pada sosok pemuka agama seperti Ustadz, Mubaligh, Pastor maupun sosok panutan seperti guru dan sesepuh. Opinion leader begitu sentral bagi berjalannya komunikasi pedesaan. Opinion leader secara garis besar dianggap sebagai orang yang lebih tahu sebagai pihak penerjemah pesan dari luar maupun ke dalam desa.
Indonesia dengan ciri khasnya sebagai negara multietnis akan memiliki sistem komunikasi yang beraneka ragam dalam heterogenitas suku. Sekalipun teknologi komunikasi sudah berembang pesat, tetapi dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang masih tinggal di pedesaan, maka peran opinion leader masih sangat besar. Jika dihubungkan dengan bahsan sebelumnya maka opinion leader termasuk sebagai golongan senior. Tidak hanya terbatas berdasarkan sekup wilayah tetapi dapat berada dalam lingkungan pergaulan, agama, dsb.
Opinion Leader ada di Setiap Level Komunikasi
Komunikasi yang terbagi menjadi empat level jika diamati akan melibatkan peran opinion leader. Pada level interpersonal, sekalipun sangat terbatas pasti tetap ada yang lebih dominan. Begitu juga dalam komunikasi kelompok, komunikasi organisasi dan komunikasi massa.
Pada komunikasi massa, opinion leader secara langsung akan diduduki oleh pelaku komunikasi oganisasi, demikian juga komunikasi organisasi memiliki opinion leader dari level- level dibawahnya. Hal yang mendasar yaitu bahwa opinion leader memiliki posisi yang cukup kuat untuk mempengaruhi khalayak. Kekuatan itu dapat berasal dari factor budaya, agama atau pengalaman.
Senioritas dan Teori Komunikasi
Faktor senioritas yang cukup berpengaruh di Indonesia pada umumnya dan masyarakat pedesaan pada khususnya apabila dikaji dalam teori komunikasi akan masuk pada aliran mikro khususnya effect research. Effect Research mengaalisas bagaimana efek media mampu menjangkau khalayak.
Kehadiran sosok opinion leader menunjukkan adanya keterlibatan yang kuat dari komunikasi interpersonal dalam proses komnuasi massa secara keseluruhan. Opinion leader itu sendiri merupakan individu dalam masyarakat yang menerima informasi dari media dan meneruskannya dalam kelompok asalnya.
Melalui media massa yang saai ini sudah semakin banyak berkembang dengan segementasi- segmentasi yang semakin sempit, masyarakat mulai dihadapkan pada kondisi untuk memilih. Dengan demikian arus efek media bisa langsung sampai pada audiens. Namun sekalipun demikian, adakalanya khalayak sangat tergantung pada informasi yang disampaikan oleh pihak tertentu yang dianggap berwenang. Sebagai contoh, saat kasus beberapa aliran sesat marak terjadi di Indonesia, secara legal dalam undang- undang sudah diatur ketentuan suatu aliran dikatakan sesat atau tidaknya. Resminya, aturan Negara berada di atas segalanya tetapi pada praktiknya ada hal yang dianggap paling final apabila sebuah fatwa dikeluarkan oleh Majelis Alim Ulama Indonesia (MUI). Mengapa justru yang dijadikan pedoman justru keputusan dari MUI? Hal itu kembali pada mayoritas orang Indonesia yang selain faktor geografis yang berpengaruh terhadap terbentuknya opinion leader, faktor agama juga dapat berpengaruh. Islam menjadi agama mayoritas penduduk Indonesia.
Dalam ruang lingkup umat Islam, filter informasi akan kembali kepada organisasi yang menaunginya. Jadi pada kasus ini, opinion leader diduduki oleh pelaku komunikasi organisasi yang menyandang posisi mayoritas. Dari komunikasi organisasi yang dimaksud di atas sesungguhnya masih bisa diturunkan ke dalam kelas interpersonal yaitu berupa figur KH. Abdurrahman Wahid, Amin Rais, dan ulama- ulama lainnya.
Sebenarnya masih banyak contoh tentang adanya peran opinion leader dalam komunikasi, terlebih dalam SKI apalagi jika ditrunan dalam cakupan geografis yang lebih sempit. Garis besar dari teori Limited Effect adalah adanya tiga poros yaitu media massa, audience dan opinion leader.
Berhubung daerah- daerah di luar kota juga sedah terjamah oleh perkembangan teknologi dan informasi maka tidak menutup kemungkinan jika masyarakat sedah memliki pola konsumsi media massa, baik itu cetak maupun elektronik. Namun, pada prartiknya, apa yang disampaikan media kepada khalayak juga tak sesempurna yang didambakan. Untuk hal- hal yang laten seperti agama dan kepercayaan, peran opinion leader sangat kental nuansanya sebagai pamong yang menetralisir arus informasi.
[1] Sistem berasal adri bahasa Yunani yaitu systema yang berarti keseluruhan yang tersusun oleh sekian banyak bagian.
-Life is choice, life is process, it must go on, go on and go on-
akhirnya ngorbit juga
tapi baru siap mental posting sekarang..:)
wauuu....menulis itu ternyata gampang-gampang susah yah!
kata orang, ketajaman tulisan akan bisa melebihi tajamnya mata pedang...
nah loh..yang kaya gitu-an yang pengen ta capai
semoga deh....
sedikit crita aja yah...seminggu ni aku berkutat dengan kewajiban kampus, mid semester n mid semester
semakin tambah umur ga terasa kuliah semakin bisa dinikmati
karena di komunikasi UNS semester 4 adalah semester penentuan, next semester mau ambil penjurusan apa di antara video, radio, Design grafis, PR ato Jurnalistik
semoga pilihanku besok bisa tepat lah...
minimal menuruti kata hati untuk mencapai cita-citaku kelak
sekarang sih proyekku lagi konsen buat latihan nulis
mau jadi apa aku nanti?
tunggu jam tayangnya lah..:)
hHe
-life is choice, life is process, it must go on, go on, and go on-